Netanyahu Sebut Hubungan Israel dan Negara-negara Arab Makin Hangat

Netanyahu Sebut Hubungan Israel dan Negara-negara Arab Makin Hangat

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 16 Mar 2016 15:46 WIB
Netanyahu Sebut Hubungan Israel dan Negara-negara Arab Makin Hangat
Foto: REUTERS/Abir Sultan/Pool
Tel Aviv, - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengklaim hubungan pemerintahannya dengan negara-negara Arab saat ini menghangat secara dramatis.

Netanyahu menyampaikan soal menghangatnya hubungan dengan negara-negara Arab tersebut dalam pertemuan partainya, Likud. Menurutnya, ancaman kelompok radikal ISIS dan juga Iran telah mengubah lanskap politik Timur Tengah.

"Berbagai negara paham bahwa Israel bukan musuh dunia Arab," tutur Netanyahu seperti dilansir media Press TV, Rabu (16/3/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut pemimpin negeri Yahudi itu, rezimnya merupakan mitra negara-negara Arab dalam apa yang disebutnya sebagai perjuangan bersama melawan unsur-unsur militan di wilayah tersebut.

Sebelumnya pada Februari lalu, Menteri Urusan Militer Israel Moshe Ya'alon pernah menekankan soal terbukanya saluran antara rezim Israel dan negara-negara Arab. Menteri Israel itu pun berjabat tangan di depan publik dengan pangeran Arab Saudi, Pangeran Turki bin Faisal al-Saud. Sebelumnya, Ya'alon mengatakan dirinya tak bisa berjabat tangan dengan pejabat-pejabat Arab di tempat publik dikarenakan sensitifnya realitas politik.

Menurut Ya'alon, Israel punya hubungan rahasia dengan negara-negara Arab, meskipun negara-negara itu mengklaim akan menormalisasi hubungan dengan rezim Israel, hanya setelah tercapai kesepakatan damai dengan Palestina.

"Kami punya saluran untuk berbicara dengan negara-negara tetangga Sunni Arab kami. Bukan hanya Yordania dan Mesir, negara-negara Teluk, negara-negara Afrika Utara," tutur Ya'alon.

Sebelumnya pada Januari, Netanyahu menyampaikan dalam wawancara dengan media CNN, bahwa Saudi kini memandang Israel lebih sebagai sekutu, bukan musuh. Menurut Netanyahu, hal itu terjadi seiring adanya perubahan besar dalam kebijakan Arab terhadap isu Palestina.

(ita/ita)


Berita Terkait