Namun pemerintah Saudi membela serangan udara yang dilancarkannya terhadap pemberontak Houthi di Yaman tersebut.
"Arab Saudi menggempur Yaman untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas," ujar Duta Besar (Dubes) Saudi untuk Inggris, Pangeran Mohammed bin Nawaf bin Abdulaziz seperti diberitakan harian Inggris, The Telegraph, Rabu (2/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lama ini, sebuah panel PBB dalam laporannya menyatakan telah menemukan adanya "serangan-serangan yang meluas dan sistemik terhadap target-target sipil."
Sementara itu, organisasi HAM Human Rights Watch dalam laporan barunya menyatakan, Saudi telah menggunakan bom-bom cluster buatan Amerika Serikat di wilayah-wilayah sipil Yaman. Dalam laporan itu disebutkan, Saudi bertanggung jawab atas semua atau hampir semua serangan munisi cluster di Yaman, karena Saudi merupakan satu-satunya pihak yang mengoperasikan pesawat yang bisa membawa senjata seperti itu.
Atas hal ini, pejabat-pejabat AS mengaku telah mendengar laporan mengenai jatuhnya korban sipil akibat serangan-serangan udara Saudi di Yaman. Namun mereka tidak menyinggung soal penggunaan munisi cluster oleh militer Saudi.
"Kami mengetahui laporan Human Rights Watch tersebut dan sedang menganalisanya," ujar Christopher Sherwood, juru bicara Departemen Pertahanan AS kepada media CNN.
Sebelumnya pada Kamis, 25 Februari waktu setempat, Parlemen Eropa menyerukan Uni Eropa untuk menerapkan embargo senjata terhadap Saudi sebagai respons atas jatuhnya korban warga sipil di Yaman.
(ita/ita)











































