Menurut Amnesty, pihaknya telah mencatat pelanggaran-pelanggaran HAM, termasuk dugaan kejahatan perang oleh pihak-pihak yang bertikai di Yaman sejak Saudi melancarkan serangan udara terhadap pemberontak Houthi di Yaman pada tahun 2015 lalu.
"Amnesty International menyerukan semua negara untuk memastikan tak ada pihak dalam konflik di Yaman yang memasok -- baik langsung maupun tak langsung -- dengan persenjataan, munisi, peralatan militer atau teknologi yang akan digunakan dalam konflik sampai pelanggaran serius seperti itu dihentikan," demikian statemen Amnesty seperti dilansir Press TV, Senin (29/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seruan ini disampaikan Amnesty menjelang pertemuan Traktat Perdagangan Senjata di Jenewa, Swiss hari Senin waktu setempat. Traktat yang mulai diberlakukan pada Desember 2014 itu, mengharuskan negara-negara untuk membentuk kontrol nasional atas ekspor senjata.
Yaman telah dibombardir pesawat-pesawat tempur Saudi sejak akhir Maret 2015 lalu. Sejauh ini, setidaknya 8.300 orang, termasuk di antaranya 2.236 anak-anak dilaporkan telah tewas akibat serangan-serangan udara Saudi tersebut. Sebanyak 16.015 orang lainnya mengalami luka-luka. Serangan udara Saudi juga telah menghancurkan banyak fasilitas dan infrastruktur di negeri tersebut, termasuk rumah sakit, sekolah dan pabrik-pabrik.
(ita/ita)











































