Selang lima hari setelah serangan teror 13 November 2015 di Paris yang menewaskan 130 orang, guru bernama Sylvain Saadoun ini, mengaku dirinya ditikam oleh tiga orang, yang salah satunya mengenakan kaos dengan logo ISIS. Saadoun mengajar di sebuah sekolah Yahudi di Marseille.
"Pakar forensik mengarahkan kami untuk menyimpulkan ... kemungkinan besar hipotesisnya adalah tindakan melukai diri sendiri," demikian pernyataan kantor jaksa setempat seperti dilansir Reuters, Jumat (26/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada polisi, pak guru ini mengaku ditikam di lengan dan kaki oleh ketiga pelaku yang menumpang dua motor vespa. Korban yang merupakan guru geografi dan sejarah ini, menderita tiga luka tusukan di tubuhnya saat itu.
Baca juga: Guru Yahudi Ditikam Pendukung ISIS di Prancis
Pada Desember lalu, seorang guru lainnya di dekat Paris mengaku diserang pendukung ISIS. Akibatnya, kegiatan belajar-mengajar terpaksa dihentikan dan penyelidikan antiterorisme dilakukan. Beberapa jam kemudian, otoritas setempat menyatakan guru yang tidak disebutkan namanya itu, telah merekayasa serangan tersebut. Namun dakwaan pidana terhadap guru dalam kasus pada Desember 2015 itu, digugurkan karena kesalahan prosedur.
Kedua kasus di atas sempat memicu perdebatan di Prancis, karena terjadi di tengah kekhawatiran usai serangan teror, juga saat otoritas Prancis masih memberlakukan situasi darurat.
Kasus ketiga terjadi bulan lalu, ketika seorang guru Yahudi di Marseille diserang remaja berusia 16 tahun yang bersenjatakan parang. Remaja itu ditangkap polisi. Namun serangan itu memicu kekhawatiran di kalangan warga Yahudi setempat. Komunitas Yahudi lokal mendorong warganya untuk tidak mengenakan kippa, semacam kopiah khas Yahudi, di tempat-tempat umum.
Baca juga: Mengaku Diserang oleh Pria yang Berteriak ISIS, Guru Prancis Ternyata Bohong
(nvc/ita)











































