Donasi ini juga disertai jutaan amunisi untuk senapan-senapan itu. Selama ini, militer Afghanistan berjuang keras untuk menjaga keamanan negara di tengah maraknya serangan militan, terutama Taliban.
"Donasi ini menunjukkan persahabatan mendalam antara kedua negara. Donasi penting ini berasal dari sahabat penting Afghanistan di tengah masa genting yang dihadapi Afghanistan dan sekitarnya," sebut penasihat keamanan nasional Afghanistan, Hanif Atmar, seperti dilansir Reuters, Kamis (25/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AFP Photo/Shah Marai |
Penyerahan senjata ini ditandai dengan upacara penyerahan di tarmak pangkalan udara di Kabul, Afghanistan pada Rabu (24/2) waktu setempat. Dari pangkalan udara, senapan ini akan diserahkan langsung pada otoritas militer Afghanistan. Ditambahkan Atmar yang juga penasihat keamanan untuk Presiden Ashraf Ghani ini, senapan dan amunisi itu diberikan sesuai kesepakatan keamanan antara kedua negara.
"Kami terus melanjutkan upaya perdamaian, tapi di sisi lain negara kami harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri," ucap Atmar seperti dilansir AFP.
REUTERS/Mohammad Ismail |
Atmar menyebut persoalan terorisme internasional di Afghanistan tidak hanya menjadi ancaman bagi negara ini, tapi juga bagi Rusia sebagai sahabat Afghanistan. Duta Besar Rusia untuk Afghanistan, Alexander Mantytskiy, menegaskan bahwa Rusia berniat untuk bekerja sama dengan Afghanistan dalam memerangi berbagai persoalan, seperti terorisme dan narkoba.
Penyerahan senapan ini terjadi seiring otoritas Rusia mulai tidak sabar dengan kegagalan kebijakan Amerika Serikat di Afghanistan. Meskipun AS telah menghabiskan dana US$ 60 miliar selama lebih dari 14 tahun untuk mempersenjatai dan melatih tentara Afghanistan, namun pasukan Afghanistan tetap kewalahan menghadapi militan Taliban yang terus melancarkan serangan.
Otoritas Afghanistan pekan ini, berupaya menggelar kembali dialog dengan para militan. Setelah pembicaraan dengan AS, China dan Pakistan, Afghanistan berharap memulai kembali proses perdamaian dengan Taliban dan militan lainnya pada awal Maret mendatang.
(nvc/ita)












































AFP Photo/Shah Marai
REUTERS/Mohammad Ismail