Australia selama ini mengirimkan para pencari suaka yang menggunakan perahu-perahu ke kamp-kamp di Papua Nugini dan Nauru. Para manusia perahu itu juga tidak ditempatkan di Australia meskipun mereka telah resmi dinyatakan sebagai pengungsi.
Amnesty menyatakan, masalah utama adalah lamanya waktu para pencari suaka ditempatkan di kamp-kamp selagi aplikasi pengungsi mereka diproses.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Canberra pun bersikeras membela kebijakannya soal pencari suaka. Ditegaskan Australia, pihaknya telah mencegah banyak kematian di laut dan mengamankan perbatasan-perbatasan negara tersebut.
Namun kelompok-kelompok HAM selama ini kerap mengkritik buruknya kondisi kamp-kamp pengungsi tersebut. Bahkan lembaga Human Rights Commission telah menemukan bahwa banyak anak-anak yang tinggal di kamp Nauru menderita penyakit kejiwaan yang parah.
Di tengah krisis migran yang melanda Eropa. Mallinson mengatakan, Canberra telah berjanji akan menempatkan sekitar 12 ribu pengungsi Suriah. Namun kenyataannya, sejauh ini, baru 26 orang yang diterima menjadi pengungsi di Australia.
"Mereka benar-benar hanya menempatkan 26 orang sejauh ini. Dalam kurun waktu yang sama, Kanada telah menempatkan 25.000 orang," ujar Mallinson.
"Saat ini ada pengungsi yang jauh lebih banyak secara global dibanding sebelumnya. Inilah waktunya negara-negara seperti Australia menghentikan permainan mereka dan mengatakan kami punya tanggung jawab di sini untuk berbagi dengan seluruh dunia," tegasnya.
Pekan lalu, pemerintah Canberra menyatakan lamanya proses aplikasi pengungsi dikarenakan ketatnya pemeriksaan keamanan terhadap para pencari suaka. (ita/ita)











































