Amnesty yang berbasis di London, Inggris tersebut biasanya kerap mengkritik negara-negara atas pelanggaran HAM. Namun dalam laporan tahunannya kali ini, Amnesty menyoroti respons Eropa yang disebutnya memalukan.
"Bahwa Eropa, yang merupakan blok terkaya di dunia, tidak mampu mengurus hak-hak dasar sebagian orang yang paling tertindas di dunia, adalah hal memalukan," cetus Sekjen Amnesty, Salil Shetty seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (24/2/2016).
Shetty menyerukan adanya rute aman, legal bagi migran untuk mencapai Eropa dan mereka harus diperlakukan secara kasus per kasus, bukan dikenai "hukuman kolektif".
Beberapa negara Uni Eropa yang masuk dalam wilayah bebas paspor Schengen, telah melakukan pengetatan perbatasan sebagai respons atas gelombang masiv migran yang melarikan diri dari perang dan penindasan di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan.
Direktur Amnesty untuk Eropa, John Dalhuisen menyesalkan hal itu.
"Mayoritas negara-negara, dengan pengecualian terhormat Jerman, telah memutuskan bahwa perlindungan perbatasan mereka lebih penting daripada perlindungan hak-hak pengungsi," kata Dalhuisen.
Sebelumnya, Badan Organisasi Migrasi Internasional, IOM menyatakan, lebih dari 100 ribu migran dan pengungsi dilaporkan telah tiba di Yunani dan Italia tahun ini. Jumlah tersebut termasuk setidaknya 97.325 orang yang tiba di pulau-pulau Yunani dan 7.507 orang yang tiba di Italia. Para migran tersebut sebagian besar berasal dari Suriah yang dilanda konflik berkepanjangan selama 5 tahun ini.
IOM juga menyebutkan, lebih dari 410 migran telah tewas sepanjang tahun ini.
"Lebih dari 410 migran dan pengungsi juga telah kehilangan nyawa mereka selama periode yang sama, dengan rute Mediterania bagian timur antara Turki dan Yunani terus menjadi rute paling mematikan, yang menyebabkan 321 kematian," demikian disampaikan IOM dalam statemen yang dirilis di Jenewa, Swiss. (ita/ita)











































