Kementerian Luar Negeri Saudi dalam statemennya seperti dilansir Press TV, Rabu (24/2/2016) menyerukan "seluruh warga untuk tidak pergi ke Libanon demi keselamatan mereka, dan meminta warga yang bermukim di Libanon atau berkunjung agar tidak tinggal kecuali benar-benar perlu."
Selain Saudi, pemerintah Uni Emirat Arab juga menyatakan akan menarik sebagian besar diplomatnya dari Libanon dan mengingatkan warga negaranya untuk tidak bepergian ke Libanon.
Pekan lalu pemerintah Saudi telah menghentikan paket bantuan senilai U$$ 3 miliar untuk militer Libanon dan sisa bantuan US$ 1 miliar untuk pasukan keamanan internal Libanon. Paket bantuan US$ 3 miliar tersebut tadinya akan diberikan kepada Libanon untuk membeli peralatan militer dari Prancis.
Pejabat senior Saudi mengatakan, kerajaan Saudi tengah melakukan peninjauan komprehensif atas hubungannya dengan republik Libanon. Otoritas Saudi menyatakan, mereka melihat "sikap bermusuhan Libanon yang diakibatkan dari cengkeraman kelompok Hizbullah di negara tersebut."
Penghentian pemberian bantuan Saudi tersebut dilakukan menyusul kemenangan militer Suriah terhadap para pemberontak yang berupaya menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad. Militer Suriah selama ini didukung oleh kelompok pemberontak Hizbullah. (ita/ita)











































