Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan sebuah organisasi amal anak di Inggris, Plan UK seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (22/2/2016).
Plan UK menyatakan, 22 persen dari lebih dari 2 ribu wanita di Inggris yang mereka survei. mengaku telah mengalami pelecehan seks seperti disentuh, diraba atau bahkan pemerkosaan semasa sekolah. Sekitar 60 persen dari wanita yang mengaku mengalami pelecehan seks semasa anak-anak itu, tidak pernah melaporkan insiden tersebut.
"Sekolah harusnya menjadi tempat yang benar-benar aman. Ketika pelecehan seksual terjadi di sekolah, itu secara dramatis menurunkan kemampuan anak-anak perempuan untuk terlibat dalam semua peluang," ujar Lucy Russell, manajer kampanye Plan UK kepada Thomson Reuters Foundation.
"Itu bisa sangat berdampak pada kepercayaan diri seseorang. Jelas itu bisa menimbulkan bahaya psikis yang yang serius, tergantung pada tindakan. Dan itu mungkin berarti mereka akan putus sekolah. Itu bisa menimbulkan dampak jangka panjang untuk pendidikan mereka," imbuh Russell.
Dalam survei itu ditemukan, satu dari tiga wanita Inggris berumur antara 18 tahun dan 24 tahun mengaku pernah mengalami kontak seksual yang tidak diinginkan semasa sekolah. Sementara satu dari 10 wanita berusia 65 tahun ke atas, juga mengalami hal yang sama.
Menurut Russell, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa pelecehan seks bukan fenomena baru. Malahan merupakan hal yang sangat berakar di masyarakat dan banyak ditolerasi oleh kaum wanita, berapa pun usia mereka.
"Itu telah terjadi selama beberapa generasi. Namun pada gererasi inilah, hal itu perlu dihentikan," tandas Russell. (ita/ita)











































