Dilansir dari kantor berita Reuters, Selasa (16/2/2016), Kementerian kesehatan Palestina mengatakan 28 orang ditembak dan terluka, termasuk satu luka di kepala dalam bentrokan di perkemahan Al-Amari di pintu masuk ke Kota Ramallah, Tepi Barat.
Satu tim pasukan berjumlah 25 tentara Israel tiba di perkemahan pinggir kota tempat kantor pusat Otoritas Palestina berada pada Senin (15/2/2016) pagi waktu setempat. Sumber-sumber keamanan Palestina mengatakan tentara mencoba untuk menangkap seorang pejabat bernama Mahmoud Abbas dari partai Fatah Presiden Palestina, yang berhasil melarikan diri.
Tentara Israel tidak memberikan alasan untuk serangan mereka di perkemahan, hanya berbicara 'kegiatan operasional'. Setelah pasukan tentara berjalan menyusuri jalanan di perkemahan, yang merupakan rumah bagi 15 ribu warga Palestina, para tentara ini bentrok dengan ratusan pemuda yang melempari mereka dengan batu dan botol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang juru bicara militer mengatakan, "Puluhan perusuh melemparkan bahan peledak buatan sendiri dan batu pasukan", meskipun wartawan AFP melihat tidak ada bahan peledak.
"Pasukan meminta para perusuh untuk menghentikan serangan menggunakan alat-alat untuk membubarkan kerusuhan. Selama serangan itu terjadi, pasukan tentara menembak ke arah provokator utama," tambah juru bicara itu.
Bentrokan tersebut berlangsung selama hampir tiga jam sebelum pasukan meninggalkan perkemahan. Beberapa prajurit dijemput oleh jeep militer. Warga Palestina mengikuti mereka dan kemudian memblokir jalan utama dari Ramallah ke Yerusalem sekitar setengah jam.
Setelah peristiwa itu pada hari yang sama, polisi Israel mengatakan mereka menangkap seorang gadis Palestina berusia 15 tahun yang membawa dua pisau dalam tas. Gadis itu ditangkap setelah dia mendekati polisi di pinggir Kota Tua Yerusalem.
"Unit polisi di gerbang Damaskus menangkap terduga teroris perempuan dengan pisau sebelum melakukan serangan. Tidak ada yang terluka," kata juru bicara polisi Micky Rosenfeld. Dalam empat bulan terakhir, peristiwa ini merupakan hal baru kekerasan dengan batu kepada Israel dan invasi ke wilayah Palestina.
Menurut hitungan AFP, sejak 1 Oktober 2015, 172 warga Palestina, 26 warga Israel, serta warga Amerika, seorang Sudan dan seorang warga Eritrea tewas dalam gelombang kekerasan.
(miq/miq)











































