"Tak ada bukti kami membombardir warga sipil, meskipun semua orang menuduh kami melakukan ini," cetus Medvedev seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (13/2/2016).
Hal tersebut disampaikan Medvedev dalam konferensi keamanan yang digelar di kota Munich, Jerman, beberapa saat setelah PM Prancis Manuel Valls meminta Rusia menghentikan serangan udara terhadap warga sipil Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, PM Valls meminta Rusia untuk berhenti membombardir warga sipil di Suriah. "Prancis menghormati Rusia dan kepentingannya ... Namun kita tahu bahwa untuk menemukan jalan menuju perdamaian kembali, bombardir Rusia terhadap warga sipil harus dihentikan," ujar Valls seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (13/2/2016).
Rusia memulai operasi udaranya di Suriah pada 30 September 2015 lalu guna mendukung sekutunya, Presiden Bashar al-Assad. Moskow mengklaim serangan-serangan udaranya dilancarkan untuk menargetkan ISIS dan kelompok-kelompok teroris lainnya.
Namun kelompok oposisi dan warga Suriah menyatakan, serangan udara Rusia itu telah merenggut nyawa banyak warga sipil di daerah-daerah sipil yang jauh dari garis depan pertempuran.
Bahkan menurut kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights pada Januari lalu, hampir 1.400 warga sipil Suriah dilaporkan tewas sejak Rusia memulai kampanye udaranya.
(ita/ita)











































