AS Sebut Serangan Udara Rusia di Suriah Malah Menguntungkan ISIS

AS Sebut Serangan Udara Rusia di Suriah Malah Menguntungkan ISIS

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 11 Feb 2016 15:31 WIB
AS Sebut Serangan Udara Rusia di Suriah Malah Menguntungkan ISIS
Dampak serangan Rusia di wilayah Suriah (REUTERS/Khalil Ashawi)
Washington - Serangan udara militer Rusia di wilayah Aleppo, Suriah dianggap menguntungkan militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Oleh karena itu, Amerika Serikat (AS) terus mendorong Rusia untuk menghentikan operasi militernya di wilayah Suriah.

"Apa yang dilakukan Rusia secara langsung menguntungkan ISIL (nama lain ISIS)," sebut Brett McGurk, utusan khusus Presiden Barack Obama untuk koalisi melawan ISIS di Irak dan Suriah, seperti dilansir AFP, Kamis (11/2/2016).

Hal ini disampaikan McGurk saat berbicara di hadapan Komisi Urusan Luar Negeri Kongres AS pada Rabu (10/2) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Luar Negeri AS John Kerry, beberapa pekan terakhir, menuding Rusia mengganggu upaya perundingan damai untuk konflik Suriah dengan terus melancarkan serangan udara di sekitar wilayah Aleppo, demi membantu rezim Presiden Bashar al-Assad.

Menlu Kerry menyerukan kepada Rusia untuk segera melakukan gencatan senjata di Suriah dan menghentikan serangan udaranya yang justru semakin meningkat beberapa hari terakhir. Terkait upaya itu, Kerry bersama 20 menteri luar negeri lainnya, termasuk Menlu Rusia Sergei Lavrov menggelar pertemuan di Munich, Jerman, untuk mengupayakan gencatan senjata dan akses kemanusiaan ke kota-kota Suriah yang dikepung pasukan loyalis Assad.
Β 
Koalisi pimpinan AS mulai melancarkan serangan udara melawan ISIS sejak September 2014 lalu. Secara terpisah, Rusia yang merupakan sekutu terdekat Assad juga melancarkan serangan udara di wilayah Suriah pada September 2015, yang lebih banyak menargetkan pemberontak yang melawan Assad.

Dalam testimoninya di hadapan Komisi Urusan Luar Negeri, McGurk menjelaskan rencana koalisi pimpinan AS untuk meningkatkan serangan melawan ISIS di Irak dan juga Suriah. Dia juga mengakui kerumitan rencana itu karena sangat bergantung pada pasukan lokal di daratan.

"Ini sungguh sulit, tapi sekarang dapat dilaksanakan. Kemajuan kita tidak akan selalu pasti, dan kita memperkirakan adanya kemunduran dan kejutan," ucapnya.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads