"Kemungkinan akan berusaha melancarkan serangan tambahan di Eropa dan berupaya melakukan serangan langsung ke wilayah AS di tahun 2016," ujar Direktur Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Letnan Jenderal Vincent Stewart seperti dilansir CNN, Rabu (10/2/2016).
Hal ini disampaikan Strewart dalam rapat Komisi Angkatan Bersenjata Senat AS di Capitol Hill, Washington, pada Selasa (9/2).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Clapper menyebut, ISIS dan kelompok-kelompok militan yang menjadi aliansinya sebagai ancaman teroris nomor satu. ISIS, menurut Clapper, memanfaatkan eksodus pengungsi dari wilayah konflik di Irak dan Suriah, dengan bersembunyi di antara warga sipil tak bersalah demi mencapai negara-negara yang menjadi targetnya.
"Mereka (ISIS) memanfaatkan aliran besar imigran untuk menyusupkan anggotanya ke dalam aliran itu," ucapnya.
"Mereka juga cukup ahli untuk persoalan paspor palsu agar sehingga mereka bisa bepergian seolah-olah sebagai pelancong yang sah," imbuh Clapper.
Beberapa waktu lalu, para petempur ISIS dilaporkan menyita sejumlah besar fasilitas paspor milik pemerintah Suriah, termasuk mesin-mesin yang mampu memproduksi paspor.
Dalam rapat dengan komisi Senat AS tersebut, Clapper merilis laporan berjudul 'Worldwide Threat Assessment of the US Intelligence Community'. Dalam laporan itu, disebutkan puluhan orang terkait ISIS ditangkap di AS sepanjang tahun 2015. Clapper menambahkan, lebih dari 38.200 pelaku jihad asing, termasuk sedikitnya 6.900 orang dari negara-negara Barat, telah bepergian ke Suriah sejak tahun 2012 lalu.
(nvc/nrl)











































