Penghentian operasi militer ini merupakan bagian dari pemenuhan janji kampanye yang pernah dibuat oleh Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Dalam kampanye pada Oktober tahun lalu, Trudeau menjanjikan untuk mengakhiri serangan udara terhadap ISIS.
Namun keputusan ini bertentangan dengan opini publik di Kanada, di mana mayoritas publik mendukung misi memerangi ISIS. Seperti dilansir AFP, Selasa (9/2/2016), Trudeau menyebut misi militer Kanada melawan ISIS hanyalah pencapaian wilayah dan militer jangka pendek dan bukan untuk stabilitas masyarakat lokal untuk jangka panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan pesawat pengisi bahan bakar CC-150T Polaris dan dua pesawat pengintai CP-140 Aurora masih akan melanjutkan misi dalam koalisi pimpinan Amerika Serikat di Irak dan Suriah. Pengerahan pasukan khusus ini akan berlangsung hingga 31 Maret 2017. Penarikan pesawat tempur Kanada ini dilihat sebagai pukulan simbolis terhadap koalisi internasional pimpinan AS yang terdiri atas 65 negara anggota. Kanada menjadi kontributor terbesar keempat dalam koalisi itu.
Tidak hanya itu, pemerintah Kanada akan memberikan bantuan sebesar 1,6 miliar dolar Kanada atau Rp 15,6 triliun sebagai bantuan kemanusiaan dan pembangunan serta upaya lainnya untuk tiga tahun ke depan. Dana itu juga termasuk bantuan untuk Yordania dan Libanon yang selama ini dilanda krisis pengungsi.
"Itu untuk menangani krisis di Irak dan Suriah dan juga menangani dampaknya di Yordania, Libanon dan sekitarnya," imbuh Menteri Luar Negeri Kanada, Stephane Dion dan Menteri Pengembangan Internasional Marie-Claude Bibeau.
(nvc/ita)










































