"Diperkirakan hingga 20 ribu orang berkumpul di perlintasan perbatasan Bab al-Salama dan sekitar 5 ribu - 10 ribu orang lainnya kehilangan tempat tinggal di kota Azaz (dekat perbatasan)," tutur juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, Linda Tom, seperti dilansir AFP, Sabtu (6/2/2016).
Linda Tom menambahkan, sekitar 10 ribu orang lainnya di kota Afrin, yang dihuni warga Kurdi Suriah, diperkirakan kehilangan tempat tinggal. "Saat ini terdapat satu kamp IDP (orang kehilangan tempat tinggal) di distrik Afrin dan upaya perluasan kamp masih direncanakan," ucapnya kepada AFP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasukan rezim Suriah didukung oleh milisi sekutu dan juga serangan udara militer Rusia. Mereka melancarkan serangan besar di wilayah Aleppo bagian utara pada Senin (1/2), dengan tujuan merebut sejumlah wilayah yang dikuasai pemberontak anti-Assad dan memutus rute suplai pemberontak ke Turki.
Kota Aleppo yang pernah menjadi kota penggerak ekonomi Suriah ini, dikuasai kelompok pemberontak di bagian timur dan rezim Assad di bagian barat sejak pertengahan tahun 2012. Rute suplai utama pemberontak dari Turki berhasil diputus pada Rabu (3/2), setelah tentara rezim Assad menghancurkan markas pemberontak di kota Nubol dan Zahraa.
Tentara loyalis Assad berhasil memasuki dua kota itu pada Kamis (4/2) dengan disambut sorakan warga setempat, yang menyerukan slogan pro-pemerintah Suriah. Namun hal ini juga memicu eksodus puluhan ribu warga yang takut terjebak konflik.
Baca juga: Tentara Pro-Assad Dekati Aleppo, Puluhan Ribu Warga Suriah Kabur
Aktivis setempat menyebut kota Aleppo kini dalam kondisi terkepung pada tiga sisi, yakni pasukan rezim Assad mengepung dari utara, kemudian militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dari timur dan pasukan Kurdi dari barat. Warga hanya memiliki satu rute untuk kabur ke Turki.
(nvc/nvc)











































