Uni Sovyet Lebih Demokratis daripada Rusia Kini

Uni Sovyet Lebih Demokratis daripada Rusia Kini

Eddi Santosa - detikNews
Jumat, 05 Feb 2016 13:24 WIB
Uni Sovyet Lebih Demokratis daripada Rusia Kini
Foto: Mikhail Gorbachev (dok. AFP)
Moskow - Era Uni Republik Sosialis Soviet atau Uni Sovyet dinilai lebih demokratis dibandingkan Rusia saat ini. Pemilihan umum saat itu lebih bebas daripada era Putin sekarang.

Penilaian kritis itu disampaikan Mikhail Gorbachev, nota bene mantan presiden Uni Sovyet sekaligus Bapak Perubahan, yang menggulirkan kebijakan Glasnost (Keterbukaan) dan Perestroika (Reformasi) pada pertengahan tahun 80-an abad lalu menuju demokratisasi dan berujung pada bubarnya Uni Sovyet.

Gorbachev nampaknya kecewa arah perubahan Rusia tidak sesuai dengan semangat yang telah dicetuskan. Nepotisme, haus kekuasaan dan korupsi saat ini melekat pada figur penerusnya, Putin. Bekas bos KGB ini menurut Gorbachev mengendalikan negara melalui perkoncoan lama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hemat saya gaya koneksi personal ini tidak dapat diterima," ujar Gorbachev dalam wawancara dengan Radio Svoboda dikutip detikcom dari Trouw, Jumat 5 Februari 2016.

Menurut Gorbachev, Putin saat ini memusatkan semua kekuasaan ada di tangannya. Hal itu bisa terjadi karena pengalaman pribadi para penyelenggara negara.

"Mereka tumbuh dalam pemerintahan yang tidak demokratis, sekaligus kekuasaan vertikal memainkan peranan besar. Kekuasaan tersebut didasarkan pada ketakutan," jelas Gorbachev.

Gorbachev menyesalkan apa yang disebutnya "komidi putar" bentukan Putin dan Medvedev, di mana keduanya melakukan perputaran atau tukar-menukar kursi Presiden dan Perdana Menteri.

"Saya malu atas hal itu. Tidak ada dialog demokratis yang bergulir, mereka cuma berdialog dengan diri sendiri. Ini adalah dominasi duo-kekuasaan (Putin-Medvedev). Di mana dong kita, 140 juta yang lainnya?," demikian Gorbachev.

Catatan detikcom, Mikhail Gorbachev adalah tokoh penerima penghargaan Nobel Perdamaian (1990) dan orang pertama penerima Penghargaan Kebebasan Ronald Reagan (1992).

Sebelumnya, Gorbachev juga telah melancarkan sikap kritisnya ke arah Kremlin. Pada 2011 dia menyeru Putin untuk lengser dan meninggalkan dunia politik. "Dua termin sebagai Presiden dan empat tahun sebagai Perdana Menteri itu sudah lebih dari cukup," gugat Gorbachev. (es/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads