Penilaian kritis itu disampaikan Mikhail Gorbachev, nota bene mantan presiden Uni Sovyet sekaligus Bapak Perubahan, yang menggulirkan kebijakan Glasnost (Keterbukaan) dan Perestroika (Reformasi) pada pertengahan tahun 80-an abad lalu menuju demokratisasi dan berujung pada bubarnya Uni Sovyet.
Gorbachev nampaknya kecewa arah perubahan Rusia tidak sesuai dengan semangat yang telah dicetuskan. Nepotisme, haus kekuasaan dan korupsi saat ini melekat pada figur penerusnya, Putin. Bekas bos KGB ini menurut Gorbachev mengendalikan negara melalui perkoncoan lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Gorbachev, Putin saat ini memusatkan semua kekuasaan ada di tangannya. Hal itu bisa terjadi karena pengalaman pribadi para penyelenggara negara.
"Mereka tumbuh dalam pemerintahan yang tidak demokratis, sekaligus kekuasaan vertikal memainkan peranan besar. Kekuasaan tersebut didasarkan pada ketakutan," jelas Gorbachev.
Gorbachev menyesalkan apa yang disebutnya "komidi putar" bentukan Putin dan Medvedev, di mana keduanya melakukan perputaran atau tukar-menukar kursi Presiden dan Perdana Menteri.
"Saya malu atas hal itu. Tidak ada dialog demokratis yang bergulir, mereka cuma berdialog dengan diri sendiri. Ini adalah dominasi duo-kekuasaan (Putin-Medvedev). Di mana dong kita, 140 juta yang lainnya?," demikian Gorbachev.
Catatan detikcom, Mikhail Gorbachev adalah tokoh penerima penghargaan Nobel Perdamaian (1990) dan orang pertama penerima Penghargaan Kebebasan Ronald Reagan (1992).
Sebelumnya, Gorbachev juga telah melancarkan sikap kritisnya ke arah Kremlin. Pada 2011 dia menyeru Putin untuk lengser dan meninggalkan dunia politik. "Dua termin sebagai Presiden dan empat tahun sebagai Perdana Menteri itu sudah lebih dari cukup," gugat Gorbachev. (es/hri)











































