Selama ini, Hizbullah yang bermarkas di Libanon banyak mengirimkan para anggotanya untuk mendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam konflik tak berkesudahan di Suriah. Hizbullah sendiri dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh otoritas AS.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Selasa (2/2/2016), badan antinarkoba AS, Drug Enforcement Administration (DEA) menyatakan sejumlah anggota Hizbullah yang ditangkap termasuk para pemimpin jaringan kelompok itu di wilayah Eropa. Mereka dimasukkan ke penahanan otoritas setempat sejak pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DEA tidak menyebut lebih jelas ada berapa orang yang ditangkap, maupun di mana mereka ditangkap. Tidak disebut juga jumlah pasti dana hasil penjualan narkoba yang digunakan untuk membeli senjata di Suriah.
"Ini sekali lagi menyoroti bahaya global pertalian antara perdagangan narkoba dan terorisme," demikian pernyataan DEA.
Sedikitnya tujuh negara termasuk Prancis, Jerman, Italia dan Belgia ikut terlibat dalam penyelidikan kasus ini, yang dimulai sejak Februari 2015 dan terus berlangsung hingga kini.
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi terhadap Noureddine dan Hamdi Zaher El Dine, seorang anggota Hizbullah lainnya yang juga dicurigai terlibat praktik pencucian uang.
(nvc/ita)











































