"Sejak 2012, infrastruktur kesehatan terus-menerus menjadi target bombardir," ujar Oubaida al-Mufti, presiden kelompok kemanusiaan Suriah, Union of Rescue and Medical Care (UOSSM) seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (28/1/2016).
UOSSM mengorganisir para dokter dari kalangan diaspora Suriah dan bekerja di wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok-kelompok pemberontak Suriah yang menentang Presiden Bashar al-Assar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada 2015 saja, kami menghitung 112 serangan yang menargetkan itu (rumah sakit)," ujar Mufti.
"Selama periode yang sama, 697 dokter, ahli farmasi, dokter gigi, perawat dan personel kesehatan lainnya kehilangan nyawa mereka dalam serangan-serangan tersebut," imbuhnya.
Dikatakannya, sebanyak 29 rumah sakit telah hancur sejak Rusia mulai melancarkan serangan udara untuk mendukung rezim Assad pada September 2015 lalu.
"Serangan-serangan ini dilakukan sebagai pelanggaran total hukum kemanusiaan dan konvensi internasional," tegas Mufti.
Seorang dokter di Idlib, barat laut Suriah, Monzer Khalil mengatakan, sejak September 2015, serangan udara makin intens. "Jika sebelumnya rumah sakit umumnya tidak begitu terdampak, kini rumah-rumah sakit benar-benar hancur oleh serangan-serangan tersebut," cetus Khalil di konferensi tersebut. (ita/ita)











































