Ketegangan Saudi-Iran semakin meningkat bulan ini setelah eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr yang memicu serangan terhadap kedutaan dan konsulat Saudi oleh demonstran Iran. Serangan pada misi diplomatik Saudi itu berdampak pada pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran.
Namun pernyataan terbaru pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menyesalkan serangan terhadap kedutaan Saudi, menurut seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, bermakna signifikan. Demikian seperti dilansir Reuters, Sabtu (23/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Dukung Arab Saudi, OKI Tuding Iran Gemar Campuri Urusan Negara Lain
Namun ditambahkan pejabat senior ini, AS tidak memiliki rencana untuk memfasilitasi pemulihan hubungan Saudi-Iran. AS yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran, menurut pejabat ini, tidak berhak menjadi penengah.
Meskipun Menlu Kerry telah menekankan kepada menteri luar negeri Saudi dan juga Iran soal pentingnya rekonsiliasi. Ditambah, Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif yang juga mengunjungi Riyadh pekan ini, juga membahas isu ini dengan otoritas Saudi.
Saudi dan Iran selama ini selalu saling tuding bahwa pihak yang berlawanan memicu instabilitas di kawasan Timur Tengah. Saudi yang menganggap dukungan Iran terhadap berbagai milisi Syiah di Irak, Suriah, Libanon dan Yaman, sebagai ancaman terhadap keamanan negaranya.
Dalam beberapa wawancara dengan media sepanjang bulan ini, Menteri Luar Negeri Saudi menyatakan hubungan diplomatik dengan Iran tidak akan bisa pulih selama Iran belum bersedia mengubah perilaku dan bertindak seperti negara biasa, bukan revolusi.
Baca juga: Meski Bersitegang, Iran Yakin Bisa Saling Melengkapi dengan Arab Saudi
(nvc/kha)










































