"Penghitungan yang diberikan oleh koalisi... adalah sekitar 22 ribu orang tewas sejak awal operasi (militer) di Irak dan Suriah," ujar Menteri Pertahanan Prancis, Jean-Yves Le Drian kepada media setempat, France24 dan dilansir AFP, Jumat (22/1/2016).
Baca juga: AS Tawarkan Bantuan Teknologi untuk Amankan Perbatasan Turki dari ISIS
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita belum melihat lagi serangan besar Daesh (nama lain ISIS) untuk beberapa saat ini. Daesh tengah berada di posisi sangat rapuh tapi kita harus tetap berhati-hati," sebutnya.
Koalisi pimpinan AS yang beranggotakan negara-negara sekutu AS seperti Prancis dan Inggris juga negara-negara Teluk, dimulai pada pertengahan tahun 2014. Serangan udara koalisi itu semakin ditingkatkan setelah serangan teror di Paris, Prancis pada November 2015 lalu.
Baca juga: Lebih Banyak Serangan di Luar Suriah dan Irak, Bukti Kemunduran ISIS
Banyak serangan udara ditargetkan terhadap fasilitas produksi minyak yang dikuasai ISIS, yang dianggap sebagai sumber pendapatan penting bagi militan radikal ini. Dalam kemunduran terbesarnya bulan lalu, ISIS kehilangan kota Ramadi, Irak yang berhasil direbut pasukan setempat yang didukung koalisi AS.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry meyakini ISIS akan bisa dilumpuhkan tahun ini. "Saya pikir pada akhir tahun 2016, tujuan kita untuk melumpuhkan Daesh (nama lain ISIS) di Irak dan Suriah dan upaya memicu perubahan di Mosul (Irak) dan Raqqa (Suriah) akan terwujud," ucap Kerry kepada wartawan dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
Baca juga: AS Yakin Bisa Lumpuhkan ISIS Akhir 2016
(nvc/ita)











































