Beberapa bulan terakhir, AS dan Turki membahas bagaimana caranya menutup perbatasan rawan, yang membentang sepanjang 98 kilometer antara Turki dengan Suriah. Perbatasan itu selama ini menjadi jalan masuk dan keluar para petempur militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
ISIS menguasai sisi perbatasan Suriah. Disampaikan seorang pejabat senior AS, seperti dilansir Reuters, Kamis (21/1/2016), upaya mengamankan perbatasan semakin mendesak setelah serangan Paris pada November 2015 lalu. Beberapa pelaku penyerangan memanfaatkan perbatasan Suriah-Turki untuk bepergian antara wilayah ISIS dengan Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Lebih Banyak Serangan di Luar Suriah dan Irak, Bukti Kemunduran ISIS
Kunjungan Biden ke Istanbul ini merupakan serangkaian kunjungan tingkat tinggi terbaru ke negara sekutu NATO. Dituturkan pejabat senior AS tersebut kepada Reuters, pada Februari mendatang, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Jeh Johnson akan memimpin delegasi antarlembaga dan menawarkan pemerintah Turki bantuan teknologi pengendalian perbatasan.
Menurut pejabat yang enggan disebut namanya tersebut, teknologi antiterowongan dan balon pengintaian aerostat termasuk daftar perlengkapan AS yang kemungkinan besar akan ditawarkan kepada Turki. Ditambahkan pejabat itu, AS kini tengah bersiap untuk berbagi metode untuk mendeteksi material yang digunakan dalam bom rakitan.
"Kami senang dengan apa yang kami lihat dalam tindakan mereka dan kami ingin bekerja bersama mereka untuk memperketatnya (perbatasan)," ucap seorang pejabat senior pemerintahan AS soal Turki. Β
Turki secara perlahan mulai meningkatkan pengamanan perbatasannya dengan mengerahkan tambahan tentara 25 ribu orang, lebih banyak dari jumlah seharusnya. Otoritas Turki juga memasang pagar dan pembatas beton. Namun Menteri Pertahanan AS Ash Carter menuturkan kepada Kongres AS bulan lalu, Turki harus meningkatkan kendali atas perbatasannya dengan Suriah.
(nvc/ita)











































