Menteri Pertahanan AS Ash Carter pada Desember 2015 lalu, meminta negara-negara anggota koalisi anti-ISIS di Irak dan Suriah agar memberikan komitmen lebih besar guna memerangi ISIS. Permintaan itu disampaikan AS menyusul serangan-serangan teror di Paris, Prancis yang menewaskan 130 orang.
Saat itu, Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull mengindikasikan pemerintahnya tak ada niat untuk memberikan bantuan lebih besar. Bahkan Menteri Pertahanan Australia Marise Payne mengatakan, komitmen Australia saat ini sudah cukup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah telah menyampaikan pada Menteri Carter bahwa kontribusi kami akan terus seperti ini," imbuhnya.
Penolakan Australia untuk memberikan bantuan militer lebih besar ini diumumkan beberapa hari menjelang pertemuan Turnbull dengan Presiden AS Barack Obama di Washington. Pertemuan tersebut akan difokuskan untuk membahas terorisme dan sengketa-sengketa wilayah.
Australia saat ini menempatkan sekitar 780 personel militer di Timur Tengah untuk mendukung operasi melawan ISIS, dan telah aktif di Irak selama berbulan-bulan. Kebanyakan dari personel militer Australia itu, yakni 400 orang ditempatkan untuk melakukan misi-misi serangan udara. Sebanyak 300 personel lainnya berada di Baghdad untuk membantu melatih pasukan keamanan Irak, dan 80 personel lainnya bertugas membantu dan menjadi penasihat militer Irak dalam operasi antiterorisme.
Sejak akhir tahun 2015 lalu, Australia juga mulai melancarkan serangan-serangan udara terhadap target-target ISIS di Suriah, sebagai bagian dari koalisi internasional anti-ISIS yang terdiri dari 60 negara.
(ita/ita)











































