"Ancaman besar bagi kawasan adalah Takfiri dan ideologi ekstremnya, yang intelektual dan finansial serta sumber dayanya berasal dari Arab Saudi," sebut Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam pertemuan dengan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder di Teheran, seperti dilansir media Iran, PressTV, Selasa (12/1/2016).
Dalam suratnya kepada sejumlah menteri luar negeri dari berbagai negara, Zarif menjelaskan bagaimana kiprah Saudi menyebarkan 'Iranophobia' dalam dua tahun terakhir. Zarif menekankan, hingga kini Iran tak habis pikir dengan berbagai aksi negatif Saudi, termasuk pencabulan dua remaja Iran oleh aparat Saudi di bandara Jeddah pada April 2015 dan tragedi haji di Mina pada September 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hubungan Iran-Saudi semakin menegang beberapa hari terakhir, usai eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr pada 2 Januari lalu. Eksekusi mati itu memicu kemarahan warga Iran, yang berujung penyerangan kedutaan Saudi di Teheran, hingga berdampak pada pemutusan hubungan diplomatik oleh Saudi.
Secara terpisah, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) Ali Shamkhani menyerukan perjuangan global melawan negara-negara yang 'mengayomi' terorisme dan militan seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
"Arab Saudi harus memilih antara mendukung Takfiri dan mendestabilisasi kawasan (di satu sisi) dan melakukan interaksi yang konstruktif dan berpartisipasi secara tulus dalam membangun stabilitas dan keamanan (di sisi lainnya)," tegas Shamkhani.
Lebih lanjut, Shamkhani menyebut penyebaran ketidakamanan yang menurutnya dipicu oleh teroris Takfiri ekstrem ke Eropa, membuat koalisi pimpinan AS dalam melawan teroris terutama ISIS, tidak efisien. Takfiri adalah momen ketika seorang muslim menuduh muslim lainnya murtad. Tuduhan yang dilontarkan itu sendiri disebut takfir, yang berasal dari kata kafir.
(nvc/ita)










































