Dalam pernyataan yang dirilis kantor berita Korut, KCNA dan dilansir AFP, Sabtu (9/1/2016), disebutkan bahwa nasib Saddam Hussein di Irak dan Muammar Khadafi di Libya menunjukkan apa yang akan terjadi ketika negara meninggalkan ambisi nuklir mereka.
"Rezim Saddam Hussein di Irak dan rezim Khadafi di Libya tidak bisa lolos dari nasib kehancuran setelah dirampas dasar pengembangan nuklir dan menyerahkan program nuklir dengan sukarela," demikian bunyi pernyataan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: Sanksi Saja Tidak Akan Bisa Mengubah Perilaku Korut)
Meminta Korut untuk meninggalkan program nuklir, menurut KCNA, akan menjadi upaya sia-sia. "Bagai berharap melihat langit runtuh," sebut KCNA.
Melalui pernyataan itu, Korut juga memperingatkan Korea Selatan yang kembali melanjutkan siaran propaganda dengan pengeras suara di perbatasannya. Korut menyebut aksi itu hanya akan membawa Semenanjung Korea ke ambang perang.
(Baca juga: Korsel Lancarkan Siaran Propaganda ke Korut)
Pernyataan KCNA itu menyebut uji coba nuklir keempat Korut pada 6 Januari lalu, yang diklaim sebagai bom hidrogen, sebagai peristiwa besar yang memberikan kemampuan pada Korut untuk mengamankan perbatasannya terhadap seluruh pasukan jahat, termasuk AS.
"Sejarah membuktikan bahwa pertahanan nuklir yang kuat menjadi senjata paling berharga dalam menghadapi agresi pihak luar," sebut KCNA.
Sebagai tambahan pernyataan via KCNA, televisi nasional Korut, Korean Central TV pada Jumat (8/1) malam menayangkan video uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Otoritas Korsel menyebut tayangan itu merupakan kompilasi uji coba rudal Korut sebelumnya, salah satunya yang dilakukan bulan Desember 2015 di Laut Jepang dan juga uji coba rudal tahun 2014 lalu.
(nvc/trw)











































