Dilaporkan PBB, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/1/2016), bahwa sedikitnya ada 40 ribu orang di Madaya, separuh di antaranya anak-anak, yang membutuhkan bantuan segera untuk menunjang hidup mereka. Akses ke kota tersebut dibatasi oleh pasukan propemerintah Suriah.
Ketika pada akhirnya, pada Kamis (7/1), otoritas Suriah memberi izin pada PBB untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke kota tersebut, laporan soal kematian akibat kelaparan bermunculan. Tidak sedikit warga sipil yang tinggal di kota tersebut yang menjadi korban kelaparan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah itu termasuk enam anak-anak yang berusia kurang dari satu tahun dan lima orang yang berusia di atas 60 tahun. Menurut MSF, beberapa orang tewas di pusat kesehatan lokal yang didukung MSF.
Sedangkan menurut organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, disebutkan ada 13 warga setempat yang berusaha kabur ke wilayah lain untuk mencari makanan, namun tewas akibat ranjau yang dipasang tentara pemerintah dan ditembak mati penembak jitu.
"Ini jelas merupakan contoh konsekuensi pengepungan sebagai strategi militer," sebut Direktur Operasional MSF, Brice de le Vingne.
Dituturkan Vingne, petugas medis setempat terpaksa memberi makan anak-anak dengan sirup medis sebagai satu-satunya sumber gula dan energi. Vingne bahkan menyebut kota Madaya bagaikan penjara terbuka bagi warganya.
"Tidak ada jalan keluar ataupun masuk, orang-orang dibiarkan mati," ucapnya.
(nvc/trw)











































