"Perang antara Arab Saudi dan Iran akan menjadi awal malapetaka besar di kawasan, dan akan berdampak besar bagi dunia. Tentu, kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi," tegas Mohammed bin Salman kepada surat kabar The Economist dan dilansir Reuters, Jumat (8/1/2016).
(Baca juga: Erdogan Dikaitkan dengan Eksekusi Ulama Syiah, Turki Panggil Dubes Iran)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini merupakan hal yang tidak bisa kami prediksi sama sekali, dan siapapun yang mendorong ke arah itu adalah orang-orang yang tidak waras," sebutnya.
Lebih lanjut, Salman mengungkapkan kekhawatiran otoritas Saudi atas peran Amerika Serikat yang berkurang di kawasan Timur Tengah. "Amerika Serikat harus menyadari bahwa mereka nomor satu di dunia dan mereka harus bertindak seperti itu," cetusnya.
(Baca juga: Tuduh Saudi Serang Kedutaan di Yaman, Iran Protes ke Dewan Keamanan PBB)
Hubungan diplomatik Saudi dan Iran terputus setelah kedutaan dan konsulat Saudi diserang para demonstran yang marah atas eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr pada 2 Januari. Faktanya semenjak itu, otoritas Saudi tidak melakukan langkah signifikan untuk meredakan ketegangan.
Otoritas Saudi sebelumnya hanya menyatakan, hubungan dengan Iran akan bisa dipulihkan jika negara Syiah itu berhenti mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain, terutama Saudi.
Di sisi lain, banyak warga Saudi yang meyakini pemerintah mereka tidak berniat memicu ketegangan baru dengan Iran, dengan mengeksekusi mati ulama Nimr. Mereka merujuk pada sejumlah langkah yang dilakukan otoritas Saudi dalam beberapa bulan terakhir demi mencairkan ketegangan dengan Iran. Salah satunya, bekerja keras untuk mengupayakan agar duta besar baru bisa disetujui pemerintah Iran, setelah beberapa bulan kosong.
(nvc/ita)










































