Peran China dalam mempengaruhi Korut kembali menjadi sorotan setelah negara komunis itu melakukan uji coba nuklir untuk keempat kali dan menuai kecaman global. Dibutuhkan peran aktif China yang merupakan satu-satunya sekutu besar Korut.
Para pakar menyatakan, China memerlukan dorongan, bukan ancaman untuk menangani negara tetangganya yang terisolasi. Meskipun Korut sebelumnya telah mendapat sanksi berat, namun PBB menjanjikan resolusi baru untuk memperkuat langkah-langkah sebelumnya.
Seperti dilansir AFP, Jumat (8/1/2016), China yang merupakan salah satu negara anggora tetap Keamanan PBB, berargumen bahwa dialog merupakan satu-satunya cara untuk memperbaiki perilaku Korut. Mantan duta besar dan wakil asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan non-proliferasi, Joseph DeThomas, menilai negara-negara Barat harus memulai upaya jangka panjang untuk mendorong China mengubah pendekatannya terhadap Korut.
"Kita harus menghadapi kenyataan bahwa sanksi saja tidak akan bisa mempengaruhi kebijakan Korea Utara, tanpa adanya perubahan fundamental dalam kebijakan China," terang DeThomas.
"Bagi saya, tujuan utama dalam diplomasi ialah bagaimana kita memicu perubahan dalam kebijakan China agar mereka bisa terlibat lebih jauh," imbuhnya.
(Baca juga: AS Dorong China Lebih Tegas pada Korut Usai Uji Coba Bom Hidrogen)
Terlepas dari itu, yang mendasari semuanya ialah keinginan China untuk menjaga Korut sebagai penyangga dan prospek penempatan tentara AS di perbatasannya, demi Korea yang bersatu. Dengan keberadaan Korut sebagai negara nuklir bisa memicu pengerahan antirudal di dekat wilayah China.
"China tidak akan menyukai kenyataan itu," ucap DeThomas.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, sebelumnya mendorong China untuk lebih tegas terhadap Korut. Kerry menyebut China harus memimpin dalam isu dan persoalan Korut. Pendekatan China selama ini yang cenderung berhati-hati terhadap negara tetangganya yang terisolasi itu, tidak membuahkan hasil yang signifikan.
(nvc/ita)











































