Disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chungying, seperti dilansir Reuters, Kamis (7/1/2016), Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Zhang Ming, kini tengah berada di Arab Saudi dan selanjutnya akan pergi ke Iran.
"Kami berharap situasi di Timur Tengah bisa mengarah ke perbaikan," ucap Hua kepada wartawan setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketegangan antara Saudi yang didominasi Sunni dan Iran yang didominasi Syiah semakin meningkat sejak eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr di Saudi pada 2 Januari lalu. Puncaknya, saat kedutaan Saudi diserang demonstran di Teheran dan Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
Langkah Saudi ini diikuti oleh beberapa negara sekutu Saudi seperti Bahrain, Sudan dan Djibouti. Sedangkan beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait dan Qatar telah menarik pulang duta besar masing-masing dari Teheran.
"Kami mengharapkan seluruh pihak bisa tetap tenang dan menahan diri, dan dengan tepat menyelesaikan isu-isu terkait lewat dialog dan konsultasi," imbuh Hua.
(Baca juga: Iran Minta Arab Saudi Berhenti Memperburuk Situasi)
Meskipun bergantung pada kawasan Timur Tengah untuk suplai minyak, otoritas China sebelumnya cenderung menyerahkan persoalan diplomasi Timur Tengah pada negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB lainnya, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Rusia. Namun kali ini tampaknya China berupaya untuk lebih berperan aktif secara diplomatik.
Hal ini juga tampak ketika Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan kepala oposisi Suriah, Syrian National Coalition (SNC), Khaled Khoja. Wang menyampaikan harapan China agar SNC bersedia menghadiri perundingan damai konflik Suriah tanpa syarat apapun. China berulang kali menyerukan solusi politik untuk konflik Suriah dan menekankan, aksi militer tidak akan bisa menghentikan konflik yang berlangsung 5 tahun terakhir.
![]() |











































