Ketegangan antara Iran dan Saudi memuncak sejak otoritas Saudi mengeksekusi mati ulama terkemuka Syiah, Nimr al-Nimr pada Sabtu, 2 Januari lalu. Ulama Nimr dikenal sebagai tokoh vokal penentang pemerintah Saudi, yang kerap menyerukan hak-hak yang lebih besar bagi warga minoritas Syiah di Saudi.
"Kebijakan rezim Saudi akan memiliki dampak domino dan mereka akan terkubur di bawah longsoran salju yang telah mereka ciptakan," cetus Wakil Kepala Garda Revolusioner Iran, IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Salami, seperti dikutip kantor berita Iran, Fars dan dilansir Reuters, Kamis (7/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salami pun menyamakan kebijakan Saudi dengan kebijakan Saddam Hussein, mendiang presiden Irak yang digulingkan oleh pasukan Amerika Serikat pada tahun 2003.
"Jalan yang ditempuh rezim Saudi sama seperti yang ditempuh Saddam pada tahun 1980-an dan 1990-an. Dia memulai perang dengan Iran, mengeksekusi ulama-ulama terkemuka dan pejabat-pejabat tinggi, menindas para pembelot dan akhirnya memiliki nasib sengsara itu," cetus Salami.
Saddam, seorang Sunni, digantung mati pada tahun 2006 setelah dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Vonis itu dijatuhkan pada Saddam atas kasus pembunuhan 148 warga desa Syiah menyusul upaya pembunuhan dirinya yang gagal pada tahun 1982.
Salami pun menyebut langkah Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran merupakan hal yang tak rasional dan penuh kebencian. Ditambahkannya, konflik di Suriah dan Irak merupakan akibat langsung kebijakan sektarian Saudi di wilayah tersebut.
![]() |












































