Seperti dilansir AFP, Rabu (6/1/2016), televisi nasional Iran menayangkan inspeksi yang dilakukan Ketua Parlemen Iran Ali Larijani bersama sejumlah pejabat Garda Revolusioner atas rudal Imad, yang disimpan di sebuah bungker bawah tanah. Rudal itu disebut memiliki jangkauan sejauh 1.700 kilometer.
Media nasional Iran sebelumnya melaporkan uji coba rudal Imad pada Oktober 2015. Pada bulan yang sama, televisi nasional Iran menayangkan rudal yang disimpan di bungker bawah tanah itu untuk pertama kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan rudal ini memicu sengketa dalam program rudal Iran. Pekan lalu, Amerika Serikat bahkan mengancam akan memberikan sanksi baru kepada Iran terkait rudal ini. Saat itu, AS menyatakan sedang mempertimbangkan sanksi baru sebagai tindak lanjut atas dua uji coba rudal oleh Iran, yang menurut panel PBB, melanggar resolusi yang bertujuan menghentikan Iran mengembangkan rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
Jika AS memutuskan untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran, maka ini bisa membahayakan kesepakatan nuklir Iran yang berhasil dicapai dengan perjuangan sulit pada Juli 2015. Terlebih kesepakatan itu baru akan diterapkan pada akhir bulan ini, setelah PBB memastikan Iran telah melakukan pembatasan pada aktivitas nuklirnya.
Presiden Iran Hassan Rouhani mengecam rencana AS untuk menjatuhkan sanksi baru dan menyebutnya sebagai intervensi ilegal dan keji. Dia bahkan memerintahkan Menteri Pertahanan Iran untuk terus mengembangkan program rudal. Dalam perundingan nuklir yang berujung kesepakatan pada Juli 2015, program rudal balistik Iran tidak masuk dalam pembahasan.
(Baca juga: Imbau Saudi-Iran Redakan Krisis Lewat Jalur Diplomatik, Turki Siap Bantu)
Sesuai kesepakatan Juli 2015, Iran sepakat membatasi program nuklirnya dan sebagai gantinya, sanksi ekonomi terhadap Iran akan dicabut. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada Oktober 2015, terang-terangan menyatakan dukungan pada kesepakatan nuklir itu. Namun Khamenei juga memperingatkan bahwa sanksi baru terhadap Iran dengan dalih apapun, merupakan pelanggaran.
Sementara itu, ketegangan antara Iran dengan Saudi meningkat setelah eksekusi mati ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr, akhir pekan lalu, yang memicu kemarahan warga Iran. Bahkan berujung serangan terhadap kedutaan Saudi di Teheran. Dampaknya, Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
(nvc/ita)











































