Seperti dilansir Reuters, Rabu (6/1/2016), krisis Saudi-Iran dikhawatirkan berdampak buruk pada perundingan damai konflik Suriah yang berlangsung selama 5 tahun terakhir. Dalam konflik Suriah, Saudi mendukung kelompok pemberontak, sedangkan Iran mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad.
Keraguan juga menyelimuti upaya mencapai solusi perdamaian dalam konflik Yaman, di mana koalisi militer yang dipimpin Saudi banyak membombardir kelompok pemberontak Houthi, yang merupakan sekutu Iran, selama 9 bulan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Saudi yang didominasi Sunni mengeksekusi ulama Syiah terkemuka, Nimr Baqr al-Nimr pada Sabtu (2/1) atas dakwaan terorisme. Eksekusi mati itu menuai protes keras dan kecaman sejumlah negara, terutama yang didominasi Syiah.
Reaksi keras muncul di Iran, ketika Kedutaan Besar Saudi di Teheran dan juga Konsulat Saudi di Mashhad diserang demonstran yang marah atas eksekusi itu. Otoritas Saudi menanggapi serangan itu dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
Langkah Saudi itu kemudian diikuti oleh Bahrain dan Sudan, sekutu dekat Saudi. Sedangkan Uni Emirat Arab dan Kuwait memutuskan menarik pulang Duta Besar masing-masing dari Iran. Dikhawatirkan krisis Saudi-Iran ini semakin memperdalam ketegangan sektarian di antara negara-negara Arab.
(nvc/ita)











































