Dilaporkan surat kabar setempat, The Times dan dilansir Reuters, Selasa (5/1/2016), PM Cameron dijadwalkan berkunjung ke Riyadh beberapa pekan mendatang sebagai bagian dari tur ke negara-negara Teluk.
Namun seorang pejabat senior Inggris menyatakan rencana kunjungan itu tidak akan dilakukan hingga setidaknya Maret mendatang. Menurut pejabat ini, seperti dikutip The Times, penundaan ini tidak terkait dengan ketegangan antara Saudi-Iran yang meningkat usai eksekusi mati ulama Nimr.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak mengkonfirmasi lebih awal rencana perjalanan perdana menteri. Mengamankan reformasi hubungan Inggris dengan UE menjadi prioritas pemerintah dan kami mengharapkan Perdana Menteri berkomunikasi dengan pemimpin-pemimpin Eropa dalam beberapa minggu mendatang," tuturnya.
Otoritas Inggris sebelumnya berada di bawah tekanan terkait isu HAM di Saudi, yang dianggap sebagai salah satu sekutu militer terdekat Inggris di Timur Tengah. Menanggapi eksekusi massal 47 narapidana termasuk ulama Nimr, otoritas Inggris tidak memberikan komentar tegas. Inggris hanya menegaskan posisinya yang menentang segala bentuk hukuman mati, tanpa menyebut langsung Saudi maupun nama ulama Nimr.
"Inggris menentang hukuman mati dalam situasi apa pun dan di negara mana pun," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Inggris, sembari menekankan bahwa Menteri Luar Negeri Philip Hammond secara rutin mengangkat isu HAM dalam pembahasan dengan berbagai negara termasuk Saudi.
(nvc/nrl)











































