Krisis Arab Saudi-Iran Teguran Bagi Kebijakan AS

Krisis Arab Saudi-Iran Teguran Bagi Kebijakan AS

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 05 Jan 2016 16:34 WIB
Krisis Arab Saudi-Iran Teguran Bagi Kebijakan AS
Ilustrasi (detikcom/Andhika Akbarayansyah)
Washington - Upaya keras Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan nuklir Iran, berdampak pada terganggunya hubungan dengan sekutunya Arab Saudi. Hal ini kemudian memicu peningkatan ketegangan di antara Iran-Saudi, yang selama ini tidak akur.

Seperti dilansir AFP, Selasa (5/1/2016), pakar politik menilai AS gagal mempertahankan aliansinya dengan Saudi yang didominasi Sunni, sembari berupaya keras memperbaiki hubungan dengan Iran yang didominasi Syiah dan juga saingan Saudi. Dampak kegagalan itu, AS kehilangan pengaruh besar.

"Saya rasa pemerintahan (AS) memiliki kebijakan sebelah mata dalam hal ini," sebut pendiri dan CEO lembaga konsultan kawasan Shaikh Group, Salman Shaikh kepada AFP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

(Baca juga: Protes Eksekusi Ulama Syiah, Ribuan Warga Iran Kembali Berdemo)

Shaikh mengklaim, dirinya dan beberapa pihak lainnya telah memperingatkan pejabat AS pada level tertinggi bahwa terlalu fokus pada Iran telah melukai hubungan hangat dengan Saudi. "Sebagai dampaknya, kita sekarang melihat perebutan kekuasaan cukup serius dimainkan di antara kedua tokoh utama protagonis di kawasan," ucapnya merujuk pada Saudi dan Iran.

Menanggapi ketegangan ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyerukan kepada Saudi dan Iran untuk berupaya meredakan ketegangan. Tapi menurut Shaikh, AS kini hanya memiliki sedikit pengaruh untuk mengatasi situasi ini. "Sekarang saya pikir, pengaruh AS terhadap situasi ini cukup mengkhawatirkan terbatas untuk saat ini," ujarnya memperingatkan.

Saudi dan Iran sama-sama menjadi kekuatan penting di kawasan Timur Tengah. AS sendiri telah memutus hubungan diplomatik dengan Iran usai insiden penyanderaan di Teheran tahun 1979 silam dan menjalin hubungan dekat dengan Saudi. Namun beberapa tahun terakhir, AS memicu kemarahan Saudi ketika terlalu fokus pada Iran demi mengamankan kesepakatan nuklir. Puncaknya ketika kesepakatan tercapai pada Juli 2015, banyak pihak termasuk Saudi melihat hal itu sebagai upaya AS bekerja sama dengan Iran.

(Baca juga: Arab Saudi Sengaja Memancing Krisis dengan Iran?)

Pekan lalu, Saudi mengabaikan peringatan AS dengan mengeksekusi mati massal 47 narapidana termasuk ulama Syiah terkemuka, Nimr Baqr al-Nimr. Eksekusi ini memicu kecaman dan reaksi keras dari Iran yang berujung penyerbuan Kedutaan Saudi di Teheran oleh ratusan demonstran. Saudi kemudian memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran, yang diikuti oleh Bahrain dan Sudan yang merupakan sekutu Saudi.

Hal ini, menurut Shaikh, menjadi kemunduran bagi AS yang sebagai hegemoni kawasan, tentu memiliki tanggung jawab untuk mengatasi situasi ini. Analisis serupa disampaikan oleh mantan Duta Besar AS yang kini bergabung dengan Middle East Media Research Institute.

"Bagaimana bisa Anda menghangatkan hubungan dengan Iran tanpa mengecewakan sekutu Anda?" ucapnya.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads