Campur Daging Kadaluarsa, 10 Pegawai Perusahaan AS Diadili di China

Campur Daging Kadaluarsa, 10 Pegawai Perusahaan AS Diadili di China

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 31 Des 2015 15:43 WIB
Campur Daging Kadaluarsa, 10 Pegawai Perusahaan AS Diadili di China
Foto: Internet/ebcitizen.com
Beijing, - Sepuluh pegawai sebuah perusahaan Amerika Serikat yang memasok daging untuk outlet-outlet makanan cepat saji di China, termasuk KFC dan McDonald's, telah diadili atas skandal daging di bawah standar.

Pengadilan di distrik Jiading, Shanghai seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (31/12/2015) telah menggelar persidangan kasus tersebut pekan ini. Para pegawai yang diadiliย  tersebut berasal dari perusahaan Shanghai Husi Food, yang merupakan cabang dari perusahaan OSI Group yang berpusat di Illinois, Amerika Serikat.

Mereka dituduh mencampur daging yang telah kadaluarsa dengan daging yang masih segar di sebuah pabrik yang telah ditutup otoritas China pada tahun 2014. Para pelanggan perusahaan tersebut termasuk jaringan makanan cepat saji global, di antaranya McDonald's dan KFC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengadilan yang sama juga mengadili para pegawai dari unit OSI lainnya di provinsi Hebei atas tuduhan yang sama, yakni memproduksi dan menjual produk berkualitas buruk.

Pengadilan menyebutkan nama-nama para pegawai yang diadili tersebut, namun tidak disebutkan jabatan mereka di perusahaan. Menurut media lokal, di antara mereka yang diadili termasuk general manager Shanghai Husi Food dan kepala pabrik di kota tersebut. Keseluruhan nama menunjukkan mereka berasal dari etnis China, namun tidak jelas apakah ada di antara mereka yang merupakan warga asing. Sidang pembacaan putusan akan digelar dalam waktu dekat ini.

Dalam statemennya, pihak OSI menyatakan menghormati proses hukum negeri itu. "Kami mengapresiasi kesempatan untuk membawa kasus kami di pengadilan. Kami terus memiliki respek penuh akan sistem hukum China," demikian pernyataan OSI.

China telah mengalami sejumlah skandal terkait keamanan makanan. Namun kasus ini mengguncang para pelanggan karena jaringan restoran Barat secara luas dipandang menjunjung standar yang lebih tinggi.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads