Seperti dilansir Reuters, Rabu (30/12/2015), aturan ini ditemukan dalam beberapa dokumen yang diamankan pasukan khusus AS saat melakukan serangan terhadap seorang petinggi ISIS pada bulan Mei lalu di kawasan Suriah. Pengungkapan dokumen ini ke publik merupakan yang pertama kalinya sejak dokumen tentang aturan tersebut ditemukan.
Beberapa aturan yang dijelaskan dalam dokumen itu yakni satu keluarga yang terdiri dari ayah dan anak dilarang untuk melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan yang sama. Lalu ada aturan tentang 'bagian dari kepemilikan bersama', di mana para pejuang ISIS diperbolehkan untuk 'berbagi' hubungan seksual dengan seorang budak perempuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih merasa marah, ISIS jusru bangga dengan perbuatan mereka. Kelompok ini bahkan menganggap apa yang mereka lakukan sebagai 'pengembangan departemen perampasan untuk mengelola praktik perbudakan.
Dalam laporan yang diterbitkan Human Rights Watch pada April lalu, 20 orang perempuan yang berhasil melarikan diri dari cengkeraman ISIS menceritakan pengalaman mengerikan mereka saat menjadi budak seksual. ISIS memisahkan wanita muda dan anak perempuan dari anak laki-laki dan wanita tua.
Pergerakan mereka terbilang rapi tanpa suara. Perempuan yang mereka pilih nantinya akan dijual atau diserahkan sebagai hadiah dan diperkosa serta menjadi korban kekerasan seksual berulang kali.
(rni/dhn)











































