Dilaporkan organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, seperti dilansir Reuters, Senin (28/12/2015), satu ledakan berasal dari bom mobil dan ledakan lainnya merupakan bom bunuh diri. Kedua ledakan itu mengguncang distrik Zahra yang ada di pusat Kota Homs.
Secara terpisah, kantor berita Suriah, SANA melaporkan dua ledakan bom mobil terjadi di kota tersebut. Namun mereka menyebut jumlah korban lebih sedikit, yakni enam korban tewas dan 37 korban luka-luka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana usai ledakan di Homs (REUTERS/SANA/Handout via Reuters) |
Sebagian besar penduduk distrik Zahra merupakan komunitas Alawite yang merupakan sekte minoritas pada klan penguasa Suriah. Belum ada kelompok maupun pihak tertentu yang mengklaim bertanggung jawab atas kedua ledakan ini.
Pada 12 Desember 2015 lalu, ledakan kembar juga mengguncang distrik Zahra hingga menewaskan sedikitnya 16 orang. Militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang disebut berasal dari bom mobil itu.
ISIS sendiri menguasai sebagian besar Provinsi Homs, termasuk kota kuno Palmyra. Sedangkan untuk Kota Homs sendiri telah dikuasai pemerintah secara penuh sejak gencatan senjata disepakati pada awal bulan ini. Dengan adanya kesepakatan itu, sedikitnya 700 anggota pemberontak dan keluarga mereka akan meninggalkan distrik Al-Waer yang merupakan wilayah terakhir yang dikuasai pemberontak di Kota Homs.
Suasana usai dua ledakan di Homs (REUTERS/SANA/Handout via Reuters) |












































Suasana usai ledakan di Homs (REUTERS/SANA/Handout via Reuters)
Suasana usai dua ledakan di Homs (REUTERS/SANA/Handout via Reuters)