Tersangka Serangan Brutal Prancis Tewas Gantung Diri di Penjara

Tersangka Serangan Brutal Prancis Tewas Gantung Diri di Penjara

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 23 Des 2015 18:53 WIB
Tersangka Serangan Brutal Prancis Tewas Gantung Diri di Penjara
Yassin Salhi saat ditangkap polisi (Emmanuel Foudrot/REUTERS)
Paris - Tersangka serangan brutal pemenggalan dan pengeboman di Prancis ditemukan tewas bunuh diri. Tersangka bernama Yassin Salhi ini gantung diri di dalam sel penjara.

Pada Juni lalu, Salhi mendalangi serangan brutal di sebuah pabrik kimia di pinggiran Paris, Prancis. Dia memenggal bosnya dan berupaya meledakkan bom di dalam pabrik tersebut. Salhi bahkan menyebarkan foto selfie dirinya dengan potongan kepala bosnya, melalui layanan pesan online.

Kepolisian Prancis meyakini Salhi terlibat jaringan militan radikal, namun dia membantah bahwa serangan itu bermotif jihad. Salhi justru mengaku serangan itu didalangi persoalan pribadi setelah dirinya bertengkar dengan bosnya karena dia menjatuhkan perlengkapan mudah pecah di pabrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

(Baca juga: Jaksa Pastikan Ada Kaitan ISIS dalam Serangan Brutal Prancis)

Disampaikan otoritas penjara Fleury-Merogis, seperti dilansir Reuters dan AFP, Rabu (23/12/2015), Salhi tewas gantung diri di dalam selnya dengan menggunakan kabel listrik pada Selasa (22/12) malam waktu setempat. Tidak diketahui pasti alasan yang mendasari Salhi mengakhiri hidupnya.

Salhi memang ditempatkan di sel terpisah dengan tahanan lainnya di penjara itu. Oleh otoritas setempat, dia tidak dikategorikan sebagai tahanan dengan risiko bunuh diri, namun ternyata dia melakukannya.

Salhi ditangkap pada Juni lalu di sebuah pabrik gas dan kimia milik perusahaan bernama Air Products, yang berbasis di Amerika Serikat. Saat itu, polisi menemukan bendera berbau militan radikal di lokasi kejadian.

(Baca juga: Pelaku Serangan Brutal di Prancis Bantah Termotivasi Jihad)

Insiden ini terjadi pada hari yang sama dengan pembantaian di resor pantai Tunisia dan sebuah masjid di Kuwait. Saat itu, Prancis juga tengah waspada tinggi usai penembakan brutal di kantor majalah satire Charlie Hebdo yang terjadi pada Januari lalu.

Otoritas Prancis meyakini Salhi terkait dengan militan radikal dan sempat berada di bawah pengawasan intelijen Prancis antara tahun 2006-2008 karena pandangannya yang radikal. Namun sebelum ditangkap, dia tidak pernah memiliki catatan kriminal dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan melancarkan serangan teror semacam ini. Dalam kasus ini, Salhi dijerat dakwaan pembunuhan dan satu dakwaan lain terkait kelompok terorisme.

(nvc/try)


Berita Terkait