'Peta' Harta Karun Nazi di Komposisi Musik

Memburu Emas Hitler

'Peta' Harta Karun Nazi di Komposisi Musik

Sapto Pradityo - detikNews
Rabu, 23 Des 2015 16:45 WIB
Peta Harta Karun Nazi di Komposisi Musik
Foto: Der Spiegel
Mittenwald -

Pada malam 22 Maret 1945, Armada Ketiga Pasukan Amerika Serikat di bawah komando Letnan Jenderal George Patton menyeberangi Sungai Rhine di Jerman. Mereka terus merangsek dan menusuk jantung kekuatan tentara Nazi. Dua pekan kemudian, sebagian prajurit Jenderal Patton berhasil merebut kota tambang garam Merkers.

Bagi prajurit Amerika, tak ada yang istimewa pada Merkers. Sampai Prajurit Pertama Clyde Harmon dan Anthony Kline bertemu dengan dua perempuan mantan pekerja tambang dari Prancis. "Di tambang inilah mereka menyimpan emas," kata salah satu perempuan itu, menunjuk tambang garam Kaiseroda. Dengan cepat, informasi itu sampai ke telinga Jenderal Patton. Dia segera memerintahkan anak buahnya mengamankan lokasi tambang dan mencari emas tersebut.

Berpuluh-puluh meter dalam lubang bawah tanah, prajurit Jenderal Patton menemukan timbunan harta milik Nazi. Selain berkarung-karung duit, mereka menemukan berton-ton emas, lukisan, dan rupa-rupa barang berharga. Perlu 32 truk besar untuk mengangkut semua harta Nazi dari tambang Kaiseroda.

"Seandainya sekarang masih masanya prajurit pemenang perang menguasai harta rampasan, kamu akan jadi orang terkaya di dunia," kata Jenderal Omar Bradley, Komandan Pasukan Amerika di Eropa, kepada Jenderal Patton, kala itu.

Timbunan emas dan uang di tambang Merkers hanyalah sebagian harta karun Nazi. Tugas pertama Walter Funk saat ditunjuk oleh Adolf Hitler sebagai Gubernur Bank Sentral Jerman, Reichsbank, pada 1939, adalah memecat semua direktur, kecuali satu orang, yakni Emil Puhl. Lantaran Walter tak paham operasi bank sentral, Puhl-lah yang belakangan memegang kendali Reichsbank.

Harta Nazi di tambang garam Merkers/Wikimedia


Di bawah komando Emil Puhl, Reichsbank melebarkan sayap "bisnis"-nya segaris dengan kebijakan Partai Nazi. Selama berkobar Perang Dunia II, Bank Sentral Jerman juga menjadi penampungan berton-ton emas yang dirampas dari negara-negara yang diduduki pasukan Jerman.

Seperti dikutip Douglas Botting dan Ian Sayer dalam bukunya, Nazi Gold: The Sensational Story of the World's Greatest Robbery, dari Bank Nasional Hungaria saja, Reichsbank mengeruk emas senilai US$ 32,2 juta (kurang-lebih setara dengan US$ 550 juta atau Rp 7,5 triliun hari ini) dan US$ 2,5 juta (setara dengan US$ 42,7 juta atau Rp 585 miliar hari ini) dari Bank Sentral Republik Cek.


Total nilai emas yang dirampas tentara Nazi selama Perang Dunia II ditaksir US$ 772 juta, setara dengan US$ 13,2 miliar atau Rp 180 triliun hari ini. Setiap emas yang dirampas kemudian dicairkan, dicetak ulang, dan diberi stempel RB, Reichsbank, dengan lambang elang. Tak semua emas disimpan di brankas Kantor Pusat Reichsbank di Berlin. Sebagian emas disimpan di kantor-kantor cabang Reichsbank.

Tak cuma merampas cadangan emas di bank sentral, Emil Puhl juga bekerja sama dengan Oswald Pohl, Kepala Departemen Ekonomi Schutzstaffel (SS), unit paramiliter Nazi. Puhl bertanggung jawab mengumpulkan segala macam harta rampasan dari para tawanan di kamp konsentrasi, mulai gigi palsu emas hingga koin emas. Ratusan ton emas yang dikumpulkan tentara Nazi sebagian jatuh ke tangan pasukan Sekutu kala perang berakhir. Tapi masih ada ratusan ton emas Nazi yang hilang tak tentu rimba. Ada di mana harta karun Nazi ini?

Wartawan dan penulis dari Belanda, Karl Hammer Kaatee, yakin petunjuk di mana sebagian harta peninggalan Nazi disembunyikan ada dalam komposisi Marsch Impromptu karya Gottfried Federlein. Karl percaya, Gottfried, yang meninggal pada 1952, menyusun komposisinya berdasarkan catatan milik Martin Bormann, Kepala Kantor Kanselir Partai Nazi merangkap sekretaris pribadi Adolf Hitler. "Pesan" dalam lagu itu mestinya ditujukan kepada Franz Xaver Schwarz, bendahara Nazi.

Leon Giesen, sutradara dari Belanda, menelusuri kebenaran dugaan Karl Hammer. Menurut Giesen, peta harta peninggalan Nazi terselip di lirik "Wo Matthias die Saiten Streichelt", Tempat di Mana Matthias Memetik Dawai, dan "Enden der Tanz", Berakhirnya Tarian. Bermodal dugaan itu, Giesen meminta izin kepada Pemerintah Kota Mittenwald, Bavaria, kota kecil di kaki Pegunungan Alpen, Jerman, untuk mengebor lokasi yang diduga merupakan kuburan emas dan berlian Nazi.

Di Mittenwald inilah Heinrich Himmler, salah satu pembantu utama Hitler, berencana membangun Benteng Alpen sebagai pertahanan terakhir Nazi. Tak jauh dari Mittenwald, yakni di Desa Einsiedl, Nazi pernah menyimpan sebagian hartanya. Ketika emas dan berkarung-karung duit di Einsiedl diserahkan kepada tentara Sekutu, ada lebih dari 100 batang emas dan berkarung-karung duit dalam mata uang asing yang hilang.

Tim Leon Giesen mengebor lokasi yang diduga tempat mengubur emas Nazi/Der Spiegel


"Aku tak sabar menunggu bagaimana hasil penggalian itu," ujar seorang warga Mittenwald kepada Der Spiegel, geli tapi juga penasaran. Tapi penggalian Giesen dua tahun lalu di Mittenwald tak menemukan satu keping pun emas Nazi.

Beberapa bulan lalu, giliran Cyril Whistler, pemain biola dari Belanda, yang mengklaim menemukan petunjuk baru di komposisi Marsch Impromptu. "Angka, huruf, dan sejumlah tanda di komposisi itu seperti menunjukkan satu rute," kata Cyril kepada Mirror. "Aku yakin tanpa ragu sudah menemukan tempat yang dituju." Menurut Cyril, emas dan uang peninggalan Hitler itu terkubur di bawah markas militer di Mittenwald. Sayang, Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen tak tertarik untuk membuktikan dugaan Cyril.
Halaman 2 dari 2
(sap/hbb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads