"Untuk menyebut IS (nama lain ISIS) sebagai organisasi teroris jelas meremehkan persoalan," sebut kepala intelijen domestik Jerman, Hans-Georg Maassen dalam wawancara dengan televisi setempat, Phoenix, dan dilansir AFP, Kamis (17/12/2015).
Maassen menjelaskan, ISIS yang mengendalikan sejumlah wilayah di Suriah dan Irak sangat berbeda dengan kelompok teroris tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Dia mencontohkan Faksi Militer Merah (RAF) di Jerman yang dibentuk tahun 1970 dan dianggap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Jerman Barat saat itu. RAF banyak mendalangi pengeboman, pembunuhan, penculikan, perampokan bank dan baku tembak dengan polisi selama tiga dekade.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Maassen menekankan bahwa dua pelaku serangan teror Paris pada November lalu, sengaja mendaftarkan diri pada kamp pengungsi di Yunani, dalam perjalanannya ke Prancis.
"IS memamerkan kekuatannya. Mereka ingin menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan. Mereka ingin membuat kita terkesan," imbuhnya.
"Mereka juga ingin mendiskreditkan aliran pengungsi," ujar Maassen merujuk pada banyaknya aliran pengungsi dan imigran yang melarikan diri dari perang dan penderitaan di negara-negara konflik, termasuk Irak dan Suriah yang beberapa wilayahnya dikuasai ISIS.
Sekitar 1 juta pengungsi yang berniat mencari suaka politik tercatat masuk wilayah Jerman sepanjang tahun ini. Jika Jerman menyambut dengan tangan terbuka, beberapa negara Uni Eropa lainnya terang-terangan menolak pengungsi karena khawatir disusupi militan radikal, terutama ISIS.
(nvc/ita)











































