Luka Bosnia Masih Menganga

20 Tahun Perang Bosnia

Luka Bosnia Masih Menganga

Sapto Pradityo - detikNews
Kamis, 17 Des 2015 17:40 WIB
Luka Bosnia Masih Menganga
Foto: Stoyan Nenov/Reuters
Jakarta -

Hanya butuh beberapa seloki bir untuk membuat memori Drazen Huterer terang kembali. Drazen baru berumur 8 tahun pada awal 1990-an saat seseorang menaruh mayat Chetnik, milisi nasionalis Serbia, di depan pintu apartemennya di Kota Sarajevo.

Drazen masih ingat betul ketika seorang teman bermainnya menaruh petasan di mulut mayat itu dan, saat petasan meledak, teras apartemennya berubah jadi merah darah. Drazen keturunan suku Kroasia, tapi kini dia lebih suka menyembunyikan asal etnisnya dan mengaku sebagai orang Sarajevo.

Perang Bosnia sudah 20 tahun lalu berakhir kala semua pihak yang baku bunuh menandatangani kesepakatan di Paris pada 14 Desember 1995. Tapi kebencian belum luntur dan luka akibat perang yang sangat brutal itu belum sembuh benar. "Anak-anak di Bosnia dibesarkan untuk saling membenci," kata Kemal Pervanic kepada Al-Jazeera. Kemal mendirikan Most Mira untuk mengubur luka lama.

Muris baru 7 tahun dan Dzenan baru 4 tahun ketika milisi Serbia menyerbu Sarajevo dan menjadikan kota itu ladang perburuan. Selama empat tahun perang, hampir 14 ribu orang tewas di Sarajevo, sebagian besar berasal dari etnis muslim Bosnia. Muris dan Dzenan, bukan nama sebenarnya, keduanya muslim keturunan etnis Bosnia, berhasil selamat lantaran keluarganya mengungsikan mereka ke luar negeri. Kendati tak terlibat perang, kebencian mereka terhadap orang-orang Serbia masih begitu kental.

Para penjahat perang dari Serbia, kata mereka, masih tak tersentuh hukum. "Mereka membunuh sepupuku. Dia baru berumur 19 tahun," kata Muris. Menurut Muris, Republik Srpska, daerah otonomi di Bosnia-Herzegovina yang dihuni mayoritas etnis Serbia, mestinya tak boleh ada. "Ini negara kami."

Dia menunjuk sekelompok nasionalis Serbia yang masih berkeliaran dan mempersulit pemulihan luka perang Bosnia. "Di Sarajevo, mereka sengaja mengenakan kaus bersablon gambar penjahat-penjahat perang.... Tapi, jika kami mengenakan kaus tim sepak bola di daerah mayoritas Serbia, pasti kami akan diserang," kata Muris. Tingginya angka pengangguran di Bosnia memperburuk sentimen etnis itu. "Orang-orang kelaparan dan tak ada yang bisa dimakan selain nasionalisme."

Foto para korban Perang Bosnia/Reuters


Luka perang yang belum sembuh dan kemiskinan jadi masalah pelik bagi Bosnia. Rata-rata penghasilan warga Bosnia kurang dari sepertiga rata-rata pendapatan negara-negara Eropa. Sampai detik ini juga masih ada 7.247 pengungsi perang yang tinggal di 121 pusat penampungan. Rata-rata mereka hanya punya penghasilan sekadar untuk bertahan hidup.


Bahkan di sekolah-sekolah, anak-anak etnis Bosnia, Kroasia, dan Serbia masih sulit bermain bersama. "Mereka punya keyakinan lain," ujar seorang anak dari suku Kroasia di Brestovsko, kota kecil sekitar 20 kilometer dari Sarajevo. "Anak-anak muslim punya kewajiban sendiri, anak-anak Kroasia punya tugas sendiri."

Padahal sekolah anak itu punya satu pintu gerbang dengan sekolah lain dengan mayoritas murid dari suku Bosnia. Dalibor Ruzicka, guru sejarah di sekolah itu, mengatakan masing-masing sekolah menekankan pada sejarah etnis masing-masing. "Di sekolah Kroasia, mereka menekankan pada hubungannya dengan negara Kroasia.... Di sekolah Bosnia, kami menekankan apa yang membuat kami berpisah dari Kroasia dan Serbia," kata Dalibor.

Ketegangan etnis ini diperparah oleh sejumlah kebijakan pemerintah daerah yang benar-benar buruk. Satu distrik di Sarajevo menerbitkan larangan bagi taksi di daerahnya untuk melintas ke wilayah dengan warga mayoritas etnis Serbia. Jika ada sopir taksi yang melanggar, dia bakal dijatuhi denda.

"Ini sungguh konyol. Ini negara kami," kata Salih Catic, sopir taksi di Sarajevo, kepada RFERL, tak habis pikir. "Kami bicara dengan bahasa yang sama dan kami tinggal di satu kota. Benar-benar tak masuk akal."

Pemerintah Sarajevo Timur, yang ada di wilayah Republik Srpska, spontan membalas peraturan tersebut. Kota itu sebagian besar dihuni suku Serbia. Pemerintah Sarajevo Timur melarang taksi-taksi di kota itu mengambil dan mengantar penumpang ke wilayah mayoritas etnis Bosnia.

Tapi sopir-sopir taksi di Sarajevo Timur, menurut seorang pengemudi, Milad Vaskovic, tak peduli pada larangan tersebut. Mereka melepas tanda taksi untuk mengelabui polisi di perbatasan kota. "Kami rata-rata mengantar penumpang ke Sarajevo tiga atau empat kali sehari," kata Milad.

Pemisahan etnis ini terus merambat ke mana-mana, termasuk dalam hal perawatan kesehatan. Etnis Bosnia dirawat di rumah sakit di daerah mayoritas Bosnia, demikian pula berlaku bagi warga Bosnia-Herzegovina dari suku Kroasia dan Serbia. "Ini benar-benar menyedihkan dan mengecewakan," kata Emir Solakovic, dokter spesialis bedah di Sarajevo. "Pasien jadi korban sistem ini."

Satu desa terbakar saat Perang Bosnia/Reuters


Korban paling menderita dari Perang Bosnia barangkali adalah para perempuan yang menjadi korban pemerkosaan massal oleh milisi Serbia dan bayi-bayi tak berdosa yang lahir dari perbuatan biadab itu. Salah satunya Alen Muhic, 22 tahun. Alen lahir di rumah sakit di Kota Goradze pada 1993.

Beberapa hari setelah melahirkan Alen, ibunya menghilang dari rumah sakit dan tak pernah kembali. "Saat aku mendengar tangisnya, aku ingin meminta dokter membawanya kepadaku dan aku ingin mencekiknya," kata sang ibu belasan tahun kemudian kepada Guardian. Baru beberapa tahun lalu Alen tahu siapa ayah dan ibunya. Entah ada berapa banyak anak Bosnia seperti Alen. Diperkirakan, hampir 30 ribu perempuan Bosnia jadi korban pemerkosaan selama perang.

Halaman 2 dari 2
(sap/hbb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads