"Sangat tragis mendengar komentar-komentar yang penuh kebencian ini, yang penuh ideologi diskriminasi terhadap orang lain," tutur Malala seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (16/12/2015).
Malala menyampaikan hal itu menanggapi pernyataan kontroversial Trump belum lama ini. Miliarder AS tersebut telah menuai kecaman setelah menyerukan larangan bagi semua umat mulim untuk masuk ke AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayah Malala, Ziauddin Yousafzai juga mengkritik komentar Trump tersebut. "Akan sangat tidak fair, sangat tidak adil jika kita mengaitkan 1,6 miliar orang dengan beberapa organisasi teroris," ujar Yousafzai mengenai jumlah umat muslim di seluruh dunia.
Malala, gadis Pakistan yang namanya kini mendunia, telah sejak lama mengkampanyekan pendidikan bagi kaum wanita di negaranya. Akibat aktivitasnya itu, Malala pernah ditembak di bagian kepala oleh kelompok militan Taliban pada tahun 2012.
"Ada serangan-serangan teroris yang terjadi, misalnya yang terjadi di Paris atau yang terjadi di Peshawar setahun lalu," kata Malala mengenai serangan kelompok radikal ISIS bulan lalu di Paris, Prancis yang menewaskan 130 orang.
"Jika kita ingin menghentikan terorisme, kita perlu menciptakan pendidikan berkualitas, sehingga kita bisa mengalahkan pemikiran soal mentalitas terorisme dan kebencian," tandas Malala. (ita/ita)











































