Pencapresannya Hendak Digagalkan, Trump Klaim Bisa Kalahkan Hillary

Pencapresannya Hendak Digagalkan, Trump Klaim Bisa Kalahkan Hillary

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 14 Des 2015 10:48 WIB
Pencapresannya Hendak Digagalkan, Trump Klaim Bisa Kalahkan Hillary
Donald Trump (REUTERS/Randall Hill)
New York - Dorongan untuk menggagalkan pencalonan Donald Trump sebagai kandidat presiden Amerika Serikat muncul di kalangan Partai Republik. Trump menyebut para pemimpin Republik mempermainkan diri sendiri dengan berniat menggagalkan pencapresannya.

Dilaporkan media AS, The Washington Post, dan dilansir AFP, Senin (14/12/2015), kalangan Partai Republik tengah berdebat soal rencana alternatif dalam konvensi pencalonan jika Trump terus mendominasi.

"Saya pikir mereka membuat kesalahan besar. Saya pikir saya satu-satunya yang bisa mengalahkan Hillary," ucap Trump menanggapi laporan itu kepada media AS lainnya, Fox News, merujuk pada kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

(Baca juga: Menlu AS Sebut Seruan Trump Bahayakan Keamanan Nasional)

Trump pun memiliki pesan khusus untuk kalangan Partai Republik. "Saya minta maaf saya melakukan ini kepada Anda, tapi Anda harus terbiasa dengan hal semacam ini. Ini menjadi salah satu masalah kehidupan," sebutnya.

Berdasarkan polling NBC/Wall Street Journal, Trump masih mendominasi di antara bakal capres Republik lainnya dengan perolehan 27 persen. Beberapa polling lainnya menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda.

(Baca juga: Donald Trump: Teman Muslim Saya Tidak Setuju Larangan Muslim ke AS)

Namun polling NBC juga menunjukkan mencuatnya kandidat Republik lainnya, Ted Cruz, yang menduduki peringkat dua di bawah Trump dengan 22 persen. Cruz yang merupakan senator konservatif ini cenderung berhati-hati dalam mengkritik Trump di depan publik.

Padahal sebagian besar kandidat dan politikus Partai Republik lainnya terang-terangan mengecam Trump setelah dia melontarkan gagasan melarang muslim masuk ke AS. Kecaman juga muncul dari Gedung Putih serta negara-negara sekutu AS seperti Prancis, Kanada dan Inggris.

(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini