"Secara langsung melarang orang-orang, karena mereka menganut satu agama tertentu? Itu sungguh bertentangan dengan nilai-nilai bangsa kita, yang dibangun atas dasar toleransi," sebut Menlu Kerry dalam wawancara dengan program televisi ABC's "This Week" seperti dilansir AFP, Senin (14/12/2015).
Pekan lalu, Trump mencetuskan gagasan melarang seluruh warga muslim ke AS untuk sementara, usai insiden penembakan brutal di San Bernardino yang didalangi oleh suami-istri muslim dan menewaskan 14 orang. Gagasan ini memicu kecaman dari banyak pihak, tidak hanya di AS tapi juga secara global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: Pangeran Arab Saudi Sebut Trump sebagai Aib, Serukan Mundur Pencapresan)
Berbicara terpisah kepada program CBS News' "Face the Nation", Menlu Kerry menyebut larangan muslim yang dicetuskan Trump itu sebagai kebijakan asing yang sangat berbahaya jika diterapkan.
"Seruan itu ditujukan pada mereka yang menganut Islam, yang berusaha mengeksploitasi orang-orang dan merekrut pejuang asing dan sebaliknya, tapi juga menyerukan bahwa lihatlah Amerika. Di sini, ada seseorang yang mencalonkan diri sebagai presiden yang menyerukan perang terhadap Islam," ujarnya.
"Ini sangat mudah dieksploitasi, terlepas apakah dia sengaja atau tidak. Dan menjadi rekrutmen. Membuat Amerika terlihat seperti negara yang memang diskriminatif terhadap Islam, terhadap muslim," imbuhnya.
(Baca juga: Donald Trump: Teman Muslim Saya Tidak Setuju Larangan Muslim ke AS)
Kerry yang baru kembali dari pertemuan iklim di Paris, menyebut pada diplomat lainnya dalam pertemuan itu menyebut seruan Trump berdampak buruk pada kebijakan luar negeri AS.
"Saya pikir ini memberikan dampak buruk pada kebijakan luar negeri Amerika dan saya mendengar hal ini dari para menteri luar negeri dan diplomat lainnya ketika saya berpergian dan berinteraksi dengan orang-orang di berbagai negara," tutur Menlu Kerry kepada CBS News.
(nvc/fdn)










































