Seperti dilansir dari AFP, Sabtu (12/12/2015), kekerasan dimulai dengan serangan terkoordinasi oleh sekelompok orang bersenjata tak dikenal di tiga instalasi militer yang memicu balasan sengit dari pasukan keamanan.
Data korban tewas pada awalnya hanya disebutkan belasan baik dari pemberontak maupun militer, namun bertambah setelah dilakukan penyisiran hingga hari Sabtu (12/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baratuza menyebut, serangan dilakukan oleh musuh negara. Selain korban tewas, militer juga berhasil mengamankan puluhan pemberontak. Meski penyerangan terjadi sepanjang Jumat, namun Sabtu pagi warga di lokasi masih menemukan puluhan mayat tersisa.
"Pertempuran berlanjut sampai malam, dan mayat-mayat yang ditemukan di lingkungan pagi ini adalah musuh," lanjut Baratuza.
Satu saksi warga Musaga yang berada di dekat dengan perguruan tinggi militer yang merupakan salah satu lokasi penyerangan, mengatakan ada lebih dari selusin mayat di jalan-jalan. "Saya telah menghitung 14 mayat dengan mata saya sendiri," katanya.
Mayat-mayat dari jalanan Bujumbura itu dengan cepat dikumpulkan dan dimakamkan di kuburan massal pada Sabtu sore untuk mencegah penyebaran penyakit. Meski, ada tudingan dari diplomat Eropa bahwa penyerangan itu disebut sebagai pembantaian, dan penguburan mayat yang cepat untuk hilangkan bukti.
Kekerasan di tiga lokasi itu merupakan kelanjutan dari krisis di Burundi setelah kudeta terhadap Presiden Pierre Nkurunziza untuk masa jabatan ketiga gagal pada Mei lalu. Nkurunziza memenangkan Pemilu namun disengketakan pada bulan Juli.
Dewan Keamanan PBB telah menggelar pertemuan atas bentrokan pada hari Jumat itu, menyusul permintaan dari Perancis. Sekjen PBB Ban Ki-moon melalui juru bicaranya, mengatakan serangan berisiko memicu destabilisasi lebih lanjut dan mendesak semua pihak untuk menahan diri.
Dalam catatan yang dirilis PBB, sebelum kekerasan pada Jumat (11/12) itu, setidaknya 240 orang tewas dan lebih dari 200.000 warga mengungsi ke negara tetangga sejak Mei lalu. Krisis di Burundi ini menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya perang saudara, setelah berakhirnya konflik 1993-2006 antara pemberontak dan tentara.
Karena itu, Dewan Keamanan PBB mengatakan tetap mengirimkan pasukan penjaga perdamaian PBB di Burundi sambil menekankan perlunya dialog politik. (miq/bal)











































