Seperti dilaporkan media AS, CNN dan dilansir Reuters, Sabtu (12/12/2015), informasi intelijen menyebut ISIS memiliki akses kepada mesin pencetak paspor dan paspor kosong milik otoritas Suriah. CNN mengutip sumber dari kalangan penegak hukum AS yang memahami laporan intelijen itu.
Kepada Reuters, seorang juru bicara Departemen Imigrasi dan Bea Cukai AS membenarkan konten laporan yang disampaikan CNN pada Jumat (11/12) waktu setempat. Laporan itu memunculkan dugaan bahwa ISIS bisa saja memproduksi paspor palsu yang terlihat sangat asli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media AS lainnya, ABC News, yang pertama kali melaporkan hal ini menyatakan laporan intelijen ini dirilis oleh Investigasi Keamanan Dalam Negeri AS, pekan lalu dan memicu kekhawatiran bahwa militan asing bisa menggunakan dokumen milik pemerintah Suriah untuk pergi ke AS.
"Sudah lebih dari 17 bulan sejak Raqqa dan Deir ez-Zour jatuh ke ISIS, mungkin saja seseorang dari Suriah dengan paspor yang 'dikeluarkan' di kota yang dikuasai ISIS atau yang memiliki paspor kosong, bepergian ke AS," demikian laporan ABC News.
Secara terpisah, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby menanggapi laporan ABC News dalam konferensi pers pada Jumat (11/12) waktu setempat. "Kita menyadari laporan ini, tidak hanya pers saja, bahwa mereka mungkin memiliki kemampuan ini," ucapnya.
Sedangkan Direktur FBI James Comey juga membahas isu ini dalam rapat dengan komisi Senat AS. "Komunitas intelijen khawatir jika mereka (ISIS) memiliki kemampuan ini, kemampuan untuk memproduksi paspor palsu, yang tentu mengkhawatirkan," tutur Comey.
(nvc/faj)










































