Disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chungying, seperti dilansir Reuters, Rabu (9/12/2015), bahwa pernyataan Trump merupakan urusan inetrnal AS dan pihaknya tidak bisa mengomentari urusan internal negara lain.
"Namun untuk isu yang dia munculkan, posisi China sangat jelas. China menentang segala bentuk terorisme," ucap Hua Chungying kepada media di Beijing.
"Kami menyerukan agar komunitas internasional membuat upaya yang disepakati bersama untuk melawan terorisme, dan pada saat yang sama kami selalu menentang terorisme dengan kelompok etnis maupun agama tertentu," tuturnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.
China menjadi tempat tinggal bagi populasi muslim yang besar, yakni sekitar 20 juta jiwa. Yang paling terkenal ialah etnis Uighur yang banyak tinggal di wilayah Xinjiang, China bagian barat. Namun otoritas China berjuang melawan ekstremis yang memicu kerusuhan dan kekerasan di wilayah tersebut.
Di sisi lain, kelompok HAM dan orang-orang yang diasingkan menyebut kebijakan China di Xinjiang sangat bersifat menindas, termasuk pengendalian praktik ajaran Islam. Kebijakan inilah yang dianggap menjadi akar kerusuhan di Xinjiang, yang menewaskan ratusan orang dalam beberapa tahun terakhir.
Otoritas China menyangkal adanya penindasan dan menjamin kebebasan beragama di wilayahnya.
Dalam kampanye di South Carolina, Trump mencetuskan gagasan untuk melarang seluruh warga muslim untuk masuk ke wilayah AS. Tim kampanye Trump menambahkan, bahwa larangan ini akan diberlakukan untuk semua warga muslim yang hendak masuk ke AS, mulai dari mahasiswa hingga wisatawan. Komentar Trump ini menanggapi penembakan brutal di San Bernardino, California yang didalangi suami-istri muslim dan menewaskan 14 orang.
(nvc/faj)











































