Obama memerintahkan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Luar Negeri untuk mengkaji ulang program visa K-1 atau yang biasa disebut sebagai visa menikah itu. Visa jenis itu digunakan oleh pasangan suami-istri yang mendalangi penembakan di San Bernardino pada 2 Desember lalu hingga menewaskan 14 orang.
Tashfeen Malik (REUTERS/FBI/Handout via Reuters) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itulah mengapa saya memerintahkan Departemen Luar Negeri AS dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS untuk mengkaji ulang program visa di mana teroris wanita di San Bernardino datang ke negara ini dengan bisa ini," ucap Obama dalam pernyataannya yang disampaikan di Ruang Oval Gedung Putih pada Minggu (6/12) malam waktu setempat.
Visa K-1 mengizinkan warga negara asing untuk masuk ke wilayah AS demi menikah warga negara AS. Menurut data Departemen Luar Negeri AS, sepanjang tahun 2014 ada sekitar 36 ribu visa K-1 yang dikeluarkan oleh AS.
Dalam pernyataannya, Obama menyebut 'visa waiver program' namun kemudian diralat oleh seorang pejabat Gedung Putih menjadi 'visa program'. Obama sendiri telah secara resmi menyebut penembakan di San Bernardino ini sebagai aksi terorisme.
Secara terpisah pemerintah AS sedang melakukan perubahan pada Visa Waiver Program (VWP) yang mengizinkan warga dari 38 negara tertentu masuk ke wilayah AS tanpa visa. Kini pemeriksaan terhadap pengguna program itu lebih diperketat. Aturan ini berlaku sejak serangan teror Paris pada 13 November lalu yang didalangi oleh kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Sementara itu, motif penembakan di San Bernardino masih terus diselidiki oleh otoritas AS, termasuk FBI. Kedua pelaku penembakan dikenal sebagai suami-istri penganut Islam yang taat dan selama ini tak memiliki tanda-tanda radikal.
Syed Rizwan Farook (REUTERS/FBI/Handout via Reuters) |












































Tashfeen Malik (REUTERS/FBI/Handout via Reuters)
Syed Rizwan Farook (REUTERS/FBI/Handout via Reuters)