Komunitas Perspektif, Berdayakan Disabilitas Pede dengan Seni ke Pentas Dunia

Jelajah Australia

Komunitas Perspektif, Berdayakan Disabilitas Pede dengan Seni ke Pentas Dunia

Nograhany Widhi K - detikNews
Kamis, 03 Des 2015 13:02 WIB
Komunitas Perspektif, Berdayakan Disabilitas Pede dengan Seni ke Pentas Dunia
Foto: Nograhany WK
Adelaide - Membuat para disabilitas percaya diri, berani dan mandiri menghadapi dunia. Itulah yang dilakukan komunitas Perspektif dari Yogyakarta yang tampil dalam OzAsia Festival di Adelaide pada September 2015.

Mereka memboyong beberapa disabilitas yang karyanya dipajang di festival seni Asia terbesar di Southern Australia itu. Ada gerobak kaki lima yang dihias meriah dengan kertas-kertas bulat aneka warna, ada patung kertas model celengan ayam yang ditempel dengan kertas-kertas bulat aneka warna, dan patung-patung kertas lainnya. Β 

(Foto: Nograhany WK)


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Titik, demikian tema besar yang ada dalam gerobak itu. Bagi mereka yang fisik dan mentalnya tak berkekurangan suatu apa pun, mungkin membuat bentuk kertas bulat dan menempel-nempelkannya adalah hal yang sederhana dan mudah.

Namun, menghasilkan karya tersebut adalah perjuangan tersendiri bagi 7 anak disabilitas asuhan komunitas Perspektif.Β  Β 

"Tantangan terbesar awalnya untuk percaya diri, karena memang sulit, setiap anak punya problem sendiri dengan disabilitas mereka," jelas fasilitator dan inisiator komunitas Perspektif, Moelyono, kala diwawancara detikcom dan RCTI - yang ke Australia atas undangan Australia Plus ABC International - di sela-sela OzAsia Festival di Adelaide Festival Centre, Southern Australia, pada September 2015 lalu.

Moelyono (Foto: Nograhany WK)


Moelyono menceritakan anak-anak disabilitas itu dilatih seni rupa melalui cara yang paling sederhana. Alih-alih menggambar bentuk seperti gunung dan matahari, anak-anak itu dikenalkan konsep seni rupa paling dasar yakni, titik. Mengenalkan titik dari benda-benda yang tersebar di sekitar, termasuk dari alam.

"Bahan lokal dari batu, dari daun, dengan apa pun. Sebenarnya awalnya memang sulit untuk menyamakan, dan meyakinkan bahwa mereka bisa," tuturnya.

Menurutnya, titik bisa menjadi pintu masuk menguasai media seni. Tujuannya untuk menumbuhkan rasa percaya diri bagi anak-anak disabilitas itu.

"Setiap anak bisa menguasai titik menggunakan anggota bagian tubuh manapun, dengan bahan apa pun yang ada dan mudah didapat di sekitar kehidupan mereka. Karena ini motivasi mental, mereka gunakan titik memakai cat pewarna lokal atau dengan menempel. Kami eksplorasi itu," imbuhnya.Β  Β 

Dukungan paling penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri para anak disabilitas melalui seni itu, menurut Moelyono, adalah dari orangtua. Orangtua sangat terlibat dari rumah hingga menyediakan waktu untuk menemani anaknya berkegiatan di komunitas Perspektif, yang terletak di Wirobrajan, Yogyakarta, itu.

Perspektif sendiri baru dibentuk pada Oktober 2014 lalu, atas ide yang dilontarkan Moelyono, seorang perupa dan pegiat HAM. Dia bersama rekan-rekannya mencari cara untuk memfasilitasi para disabilitas dalam berseni rupa, membangun, menyebarkan, menanamkan pola pikir kesetaraan tentang disabilitas.

"Perkembangannya anak-anak jadi percaya diri, terutama dukungan dari orang tuanya. Kegiatan iniΒ  lebih kepada community base, komunitas mereka, komunitas keluarga, bagaimana mendukung kegiatan anak-anak, kolaborasi orangtua dengan anak," tuturnya.

Maka, saat dibentuk hingga kini, ada 7 anak disabilitas yang dibina, terdiri dari tuna rungu, tuna daksa, mental retardasi dan slow learner. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kecuali bagi yang tuna daksa.

Didukung Tutti Art, yayasan yang bergerak di bidang seni untuk memberdayakan disabilitas dan Flinders University, beberapa anak disabilitas dihadirkan dalam OzAsia Festival. Salah satunya adalah Lakmayshita Khanza Larasati Carita atau yang akrab disapa Shita (20), seorang tunarungu.



"Saya merasa sedikit kesulitan untuk menempel beberapa manik-manik dan barang-barang yang bulat-bulat yang bentuknya kecil-kecil, saya bisa lakukan. Hanya mungkin tak terlalu mudah untuk yang besar-besar," jawab Shita kala ditanya kesulitannya membuat seni rupa bertema "titik".

Shita (Foto: Nograhany WK)

Shita menjawab dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan Mada, sukarelawan dari LSM DeafArt Community Yogyakarta. Shita mengungkapkan, karya seni rupa ini adalah caranya berkomunikasi dan terhubung dengan teman-teman disabilitas lainnya.

"Ini membuktikan teman-teman disabilitas pun bisa membuat karya," demikian isyarat yang dikeluarkannya.

Shita merespons dengan tegas bahwa proses membuat karya seni ini membuat dirinya lebih percaya diri.

"Ya betul, saya merasa lebih percaya diri, karena ini baru pertama kali, juga membuat saya bingung bagaimana menempelnya, membuat karya ini. Tapi dengan saya terus belajar dengan teman-teman yang terus membantu," akunya.

Shita hadir di OzAsia Festival kali itu tak cuma menunjukkan hasil karyanya, namun dia juga tampil membawakan puisi bahasa isyarat. Shita, yang juga mahasiswi Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta jurusan seni rupa ini, sudah latihan intens selama 1 bulan untuk pementasan selama 7 hari. Β 

"Puisi bahasa isyarat, sebetulnya tidak ada yang terjemahkan. Shita pentas, kemudian Shita akan berikan kertas pesan puisinya pada penonton," kali iniΒ  Mada menjelaskan.

Baca terus fokusΒ Jelajah Australia, dan ikutiΒ Hidden Quiz-nya!
Halaman 2 dari 1
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads