Hal ini disampaikan Obama dalam wawancara di stasiun televisi CBS usai penembakan massal di San Bernardino, California pada Rabu (2/12) sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Obama menyerukan perlunya UU baru mengenai keselamatan bersenjata.
Dikatakannya, para anggota parlemen juga harus mengeluarkan aturan hukum yang mencegah orang-orang yang masuk dalam "Daftar Dilarang Terbang" bisa membeli senjata api secara legal.
"Kita belum tahu motif para penembak namun yang kita tahu adalah ada langkah-langkah yang bisa kita ambil untuk membuat warga Amerika lebih aman," tutur Obama seperti dilansir CNN, Kamis (3/12/2015).
"Kita jangan pernah berpikir bahwa ini terjadi begitu saja secara kebetulan, karena ini tidak terjadi dengan frekuensi yang sama di negara-negara lain," imbuhnya.
Menurut Obama, Amerika memiliki pola penembakan massal yang tidak ada duanya di dunia.
Sebanyak 14 orang tewas dan 17 lainnya terluka dalam insiden penembakan di Inland Regional Center di San Bernardino, California tersebut. Seorang pria dan seorang wanita yang terlibat penembakan itu tewas dalam baku tembak dengan polisi. Sementara satu orang lainnya yang diduga terlibat penembakan itu, telah ditahan polisi.
Fasilitas tempat insiden penembakan ini terjadi -- Inland Regional Center -- didirikan lebih dari 40 tahun lalu untuk membantu mereka yang memiliki gangguan perkembangan mental. Usai kejadian ini, fasilitas tersebut ditutup, begitu pula dengan lokasi pemukiman di San Bernardino.
Penembakan ini merupakan kekerasan senjata paling mematikan di AS sejak pembantaian di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut pada Desember 2012 yang menewaskan 27 orang, termasuk pelaku penembakan.
(ita/ita)











































