Belum diketahui motif penembakan massal tersebut. Pejabat Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengingatkan untuk tidak terburu-buru menggunakan istilah terorisme untuk menyebut insiden penembakan yang terjadi pada Rabu (2/12) sekitar pukul 11.00 waktu setempat itu.
"Itu kemungkinan terorisme, namun kami belum tahu. Dan kami tak akan menyebutnya seperti itu saat ini," tutur David Bowdich, wakil direktur FBI yang memimpin kantor cabang Los Angeles seperti dilansir AFP, Rabu (3/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fasilitas tempat insiden penembakan ini terjadi -- Inland Regional Center -- didirikan lebih dari 40 tahun lalu untuk membantu mereka yang memiliki gangguan perkembangan mental. Usai kejadian ini, fasilitas tersebut ditutup, begitu pula dengan lokasi pemukiman di San Bernardino.
Penembakan ini merupakan kekerasan senjata paling mematikan di AS sejak pembantaian di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut pada Desember 2012 yang menewaskan 27 orang, termasuk pelaku penembakan.
Penembakan massal ini terjadi kurang dari satu minggu setelah seorang penembak menewaskan tiga orang dan melukai sembilan lainnya dalam penembakan membabi-buta di klinik Planned Parenthood di Colorado Springs, Colorado. Pada Oktober lalu, seorang penembak juga membunuh sembilan orang di sebuah kampus di Oregon. Sebelumnya pada Juni, seorang penembak berkulit putih menewaskan sembilan jemaat gereja kulit hitam di South Carolina. (ita/ita)










































